KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan
Hidayah-Nya kepada penulis, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang
berjudul “Model-Model Pengembangan
Kurikulum”.
Adapun
maksud dan tujuan penulis makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah Pengembangan Kurikulum PAI dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah,
Program Studi Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam Darussalam Ciamis.
Penulis
menyadari keterbatasan dalam penyelesaian makalah ini, sehingga dalam
pembuatannya tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak berupa petunjuk maupun
saran.
Denagn
adanya keterbatasan yang penulis miliki, penulis telah berusaha sebaik mungkin
dengan kemampuan yang ada, maka penyajian makalah ini msaih jauh dari
kesempurnaan.
Akhir
kata pnulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis, pembaca atau
pihak lain yang memerlukan makalah ini.
Ciamis,
Maret 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................
DAFTAR ISI.......................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang.................................................................................
1.2
Rumusan Masalah............................................................................
1.3
Tujuan Penulisan..............................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Model-Model Pengembangan
Kurikulum......................
2.2
Jenis Model-Model Pengembangana
Kurikulum.............................
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan.............................................................................................
3.2
Saran....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Model – model pengembangan kurikulum memegang
peranan penting dalam kegiatan pengembangan kurikulum. Sungguh sangat naif bagi
para pelaku pendidikan di lapangan terutama guru, kepala sekolah, pengawas
bahkan anggota komite sekolah jika tidak memahami dengan baik keberadaan,
kegunaan dan urgensi setiap model – model pengembangan kurikulum.
Salah satu fungsi pendidikan dan kurikulum
bagi masyarakat adalah menyiapkan peserta didik untuk kehidupan di kemudian
hari. Oleh karena itu ada beberapa ciri dasar yang dapat disimpulkan atas
penyelenggaraan kurikulum dan pendidikan yaitu sadar akan tujuan, orientasi ke
hari depan, dan sadar akan penyesuaian.
Pemahaman tentang kurikulum sendiri merupakan
salah satu unsur kompetensi paedagogik yang harus dimiliki seorang guru.
Kompetensi paedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran pada peserta didik yang salah
satunya kemampuan pengembangan kurikulum.
Pada tahun 2006 pemerintah menerapkan
pemberlakuan tentang kurikulum baru, yang berlaku sebagai pengganti kurikulum
2004 yaitu Kurukulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP). Kurikulum ini merupakan
inovasi baru dalam bidang kurikulum pendidikan di Indonesia, karena dengan
adanya KTSP pihak satuan pendidikan dituntut kemampuannya dalam menyusun
kurikulum sesuai dengan keadaan atau kondisi dan keperluan satuan sekolah
tersebut yang lebih dikenal dengan system desentralisasi. Yang tentunya ini
merupakan perbedaan pada kurikulum sebelumnya yang lebih menitikberatkan pada
sekolah untuk melaksanakannya saja sedangkan yang membuat dan menyusunnya
adalah pemerintah yang dikenal dengan system sentralisasi.
Dengan berkembangnnya ilmu pengetahuan dan
teknologi yang melaju cepat, menuntut kemajuan masyarakat sebagai pelaku
pendidikan juga berkembang, untuk itu pemerintah melalui guru berusaha
mewujudkan sumber daya manusia yang kompeten sebagai produk hasil dari proses
pendidikan. Maka dari itu perlu adanya pengembangan kurikulum
sebagai modal dasar agar pembelajaran dapat berjalan lancar dan dapat mencapai
tujuan yang diharapkan.
Pengembangan kurikulum tidak dapat lepas dari
berbagai aspek yang mempengaruhinya, seperti cara berpikir, sistem nilai (nilai
moral, keagamaan, politik,budaya, dan sosial), proses pengembangan, kebutuhan
peserta didik, kebutuhan masyarakat maupun arah program pendidikan. Aspek-aspek
tersebut akan menjadi bahan yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pengembangan
kurikulum. Model pengembangan kurikulum
merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka mendesain (design), menerapkan
(implementation), dan mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena
itu, model pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem
perencanaan pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar
keberhasilan pendidikan. Dalam praktik pengembangan kurikulum sering terjadi
kecenderungan hanya menekankan pada pemenuhan mata pealajaran. Artinya isi atau
materi yang harus dipelajari peserta
didik hanya berpusat pada disiplin ilmu yang terstruktur, sistematis dan logis,
sehingga mengabaikan pengetahuan dan kemampuan aktual yang dibutuhkan sejalan
perkembangan masyarakat. Salah satu
aspek yang perlu dipahami dalam pengembangan kurikulum adalah aspek yang
berkaitan denga organisasi kurikulum. Organisasi kurikulum berkaitandengan
pengaturan bahan pelajaran, yang selanjutnya memiliki dampak
terhadap masalah administrasi pelaksanaan proses pembelajaran, tean
teaching misalnya.. Organisasi kurikulum bukan masalah manajerial lembaga
pendidikan. Organisasi kurikulum merupakan pola ataudesain bahan/ isi kurikulum
yang tujuannnya untuk mempermudah siswa dalam mepelajari bahan pelajaran serta
mempermudah siswa dalam melakukan kegiatanbelajar, sehingga tujuan pembelajaran
dapat dicapai secara efektif.
Banyak model dalam pengembangan kurikulum
yang dapat diterapkan dalam proses pendidikan, untuk lebih jelasnya maka makalah
ini akan membahas mengenai Model – Model
Pengembangan Kurikulum.
1.2
Rumusan
Masalah
1.2.1 Apa
Pengertian Model-Model Pengembangan Kurikulum ?
1.2.2 Ada
berapa model yang dipergunakan dalam pengembangan kurikulum ?
1.3
Tujuan
Penulisan
1.3.1
Untuk
Mengetahui pengertian model-model pengembangan kurikulum.
1.3.2
Untuk mengetahui
berbagai jenis model-model pengembangan kurikulum
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian
Model-Model Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum mempunyai makna yang
cukup luas, menurut Nana Syaodih Sukmadinata (200:1) pengembangan kurikulum
bisa berarti penyusunan kurikulum yang sama sekali baru (curriculum
construction), bisa juga menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curriculum
improvement). Sedangkan model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi
pristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis serta
lambang-lambang lainnya. (Wina Sanjaya 2007:177).
Kurikulum secara umum dapat didefinisikan
sebagai rencana (plan) yang dikembangkan untuk dapat tercapainya proses belajar
mengajar dengan arahan atau bimbingan sekolah serta anggota stafnya. (H.M.
Ahmad, Dkk, 1997: 59)
Pengembangan kurikulum adalah proses yang
mengaitkan satu komponen kurikulum lainnya untuk menghasilkan kurikulum yang
lebih baik. (H.M. Ahmad, Dkk, 1997: 62)
Menurut Good (1972) dan Travers (1973), model
adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem,
dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainnya. Model
bukanlah realitas, akan tetapi merupakan representasi realitas yang
dikembangkan dari keadaan. Dengan demikian, model pada dasarnya berkaitan
dengan rancangan yang dapat digunakan untuk menerjemahkan sesuatu sarana untuk
mempermudah berkomunikasi, atau sebagai petunjuk yang bersifat perspektif untuk
mengambil keputusan, atau sebagai petunjuk perencanaan untuk kegiatan
pengelolaan.
Model atau konstruksi merupakan ulasan
teoritis tentang suatu konsepsi dasar (Zainal Abidin (2012: 137). Dalam
pengembangan kurikulum, model dapat merupakan ulasan teoritis tentang suatu
proses kurikulum secara menyeluruh atau dapat pula merupakan ulasan tentang
salah satu bagian kurikulum. Sedangkan menurut (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
model adalah pola, contoh, acuan, ragam dari sesuatu yang akan dihasilkan.
Dikaitkan dengan model pengembangan kurikulum berarti merupakan suatu pola,
contoh dari suatu bentuk kurikulum yang akan menjadi acuan pelaksanaan
pendidikan/pembelajaran.
Model pengembangan kurikulum adalah model
yang digunakan untuk mengembangkan suatu kurikulum, dimana pengembangan
kurikulum dibutuhkan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum yang
dibuat untuk dikembangkan sendiri baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah
atau sekolah.
Nadler (1988) menjelaskan bahwa model yang
baik adalah model yang dapat menolong si pengguna untuk mengerti dan memahami
suatu proses secara mendasar dan menyeluruh. Selanjutnya ia menjelaskan manfaat
model adalah model dapat menjelaskan beberapa aspek perilaku dan interaksi
manusia, model dapat mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil observasi dan
penelitian, model dapat menyederhanakan suatu proses yang bersifat kompleks,
dan model dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan.
Jadi model pengembangan kurikulum merupakan
suatu alternatif prosedur dalam rangka mendesain (designing), menerapkan (impelementation),
dan mengevaluasi (evaliatoon) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model
pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem
perencanaan pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar
keberhasilan dalam pendidikan.
Pengembangan kurikulum tidak dapat terlepas
dari berbagai aspek yang memengaruhinya, seperti cara berfikir, sistem nilai
(nilai moral, keagamaan, politik, budaya, dan sosial), proses pengmbangan,
kebutuhan peserta didik, kebutuhan masyarakat maupun arah program pendidikan.
Aspek-aspek tersebut akan menjadi bahan yang perlu dipertimbangkan dalam suatu
pengembangan kurikulum. Agar dapat mengembangkan kurikulum secara baik,
pengembang kurikulum semestinya memahami berbagai jenis model pengembangan kurikulum.
Yang dimaksud dengan model pengembangan kurikulum yaitu langkah atau prosedur
sistematis dalam proses penyususnan suatu kurikulum.
Dengan memahami esensi model pengembangan
kurikulum dan sejumlah alternatif model pengembangan kurikulum, para pengembang
kurikulum diharapkan akan bisa bekerja secara lebih sistematis, sistemik dan
optimal. Sehingga haarpan ideal terwujudnya suatu kurikulum yang akomodatif
dengan berbagai kepentingan, teori dan praktik, bisa diwujudkan.
Dari pengertian di atas maka dapat
disimpulkan bahwa model pengembangan kurikulum adalah berbagai bentuk atau
model yang nyata dalam penyususnan kurikulum yang baru ataupun penyempurnaan
kurikulum yang telah ada.
2.2
Jenis
Model-Model Pengembangan Kurikulum
Kurikulum
sebagai perangkat yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan anak secara
paripurna, khususnya kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapi
sehari-hari perlu dipikirkan pengalaman apa yang diperlukan oleh siswa untuk
memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan mempertimbangkan produk yang hendak
dicapai, maka dimensi pengembangannya harus mengikuti pola the how bukan the
what, yaitu bagaimana muatan yang disusun dalam rancangan pendidikan itu mampu
merangkum pengalaman siswa untuk mencapai otonomi intelektuanya, sehingga
memberikan kemampuan untuk berpikir secara mandiri dalam memecahkan persoalan
baru yang belum pernah diperoleh di sekolah.
Menyimak urgensinya, maka para pengembang
kurikulum dalam menyususn kurikulum memperhatikan dua faktor, yaitu kompetensi
terminal dan relevansi dengan dunia kerja. Kompetensi terminal yang
dimaksudkan, kompetensi untuk mencapai tujuan pendidikan melalui semua
aktivitas dan pemgnalaman belajar sehingga peserta dapat mengembangangkan
potensi lewat pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan di sekolah. Relevansi
dengan dunia kerja dimaksudkan, apa yang dipelajari dibangku sekolah sesuai
dengan jenis lapangan kerja yang dicita-citakan serta selaras dengan bakat dan
kemampuannya.
Sebagai rancangan pendidikan, kurikulum dalam
pengembangannya melibatkan berbagai pihak, terutama pihak-pihak yang secara
langsung ataupun tidak langsung memiliki kepentingan dengan keberadaan
pendidikan yang dirancang, yaitu mulai dari ahli pendidikan, ahli bidang studi,
guru, siswa, pejabat pendidikan, para praktisi maupun tokoh panutan atau
anggota masyarakat lainnya. Berdasarkan kepentingannya kurikulum dapat
dikembangkan dalam berbagai variasi model, tiap model memiliki karakteristik
yang spesifik yang tidak dimiliki oleh model yang lain.
Model-Model Kurikulum yang lazim digunakan
sebagai rencana pendidikan adalah sebagai berikut :
2.3.1
Model Administrasi
Model
administrasi atau line staff dianggap sebagai model yang paling awal dikenal.
Disebut line staff karena pada model ini inisiatif pengembangan kurikulum
dimulai dari pejabat tingkat atas (Superintendent). Pada Model Administrasi,
inisiatif rekayasa pengembangan kurikulum menggunakan konsep atau prosedur
administrasi dimana administrator atau pejabat pendidikan membentuk komisi
pengarah yang bertugas merumuskan konsep dasar dan landasan kebijakan dan
strategi utama dalam mengembangkan kurikulum (Sudrajat,2008). Pejabat tersebut
membuat keputusan tentang kebutuhan suatu program pengembangan kurikulum dan
implementasinya, lalu mengadakan pertemuan dengan staf lini (bawahannya) dan
meminta dukungan dari dewan pendidikan (Board of education). Langkah berikutnya
adalah membentuk suatu panitia pengarah yang terdiri dari pejabat administratif
tingkat atas, seperti asisten superintendent, principals, supervisor, dan
guru-guru inti. Panitia pengarah merumuskan rencana umum, mengembangkan panduan
kerja, dan menyiapkan rumusan filsafat dan tujuan bagi seluruh sekolah
didaerahnya (District). Disamping itu, panitia pengarah dapat mengikutsertakan
organisasi diluar sekolah atau tokoh masyarakat sebagai panitia penasehat yang
bekerja bersama dengan personel sekolah dalam rangka merumuskan berbagai
rencana, petunjuk dan tujuan yang hendak dicapai.
Setelah kebijakan kurikulum dikembangkan,
maka panitia pengarah memilih dan menugaskan staf pengajar sebagai panitia
pelaksana (panitia kerja) yang bertanggung jawab mengkonstruksikan kurikulum.
Panitia im merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum, isi (materi),
kegiatan-kegiatan belajar dan sebagainya sesuai dengan pedoman atau acuan kebijakan
yang telah ditentukan oleh panitia pengarah. Panitia mengerjakan tugasnya
diluar jam kerja biasa dan tidak mendapat kompensasi. Kondisi ini diterapkan
karena berkaitan dengan tanggung jawab guru untuk memahami dengan benar
kurikulum dan meningkatkan mutu kurikulum itu sendiri. Selanjutnya, disusu
draff kurikulum yang lebih operasional
melalui penjabaran konsep kebijakan dalam tujuan operasional, penyusunan
materi, strategi dan evaluasi pembelajaran, disamping itu juga menyusun pedoman
umum sebagai petunjuk pelaksanaannya.
Namun ada permasalahan yang sering muncul
didalam pemilihan Model Administrasi ini, antara lain:
(1)
Menuntut
adanya kesiapan guru sebagai pelaksananya,
(2)
Memerlukan
internalisasi kurikulum yang dikembangkan, tentunya malalui penataran awal,
(3)
kecenderungan
bersifat searah, karena adanya sentralisasi dalam diseminasinya,
(4)
pada
tahun-tahun pertama pelaksanaan, ada monitoring secara intensif dan
berkelanjutan tidak dapat dihindarkan.
2.3.2 Model Grass root
Model Grass Root atau akar rumput dikembangkan oleh Smith,
Stanley & Shores pada tahun 1957. Model Grass Root berbeda dengan rekayasa model administrasi.
Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum model ini bersasal dari bawah.
Misalnya model ini diawali oleh guru, pembina disekolah dengan mengabaikan
metode pembuatan keputusan kelompok secara demokratis dan dimulai dari
bagian-bagian yang lemah kemudian diarahkan untuk memperbaiki kurikulum
tertentu yang lebih spesifik atau kelas-kelas tertentu. Model ini didasarkan
pada pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna
pengajaran dikelasnya. Sehingga terdapat perbedaan yang signifikan jika
dibandingkan dengan Model Administrasi. Karena bila model Administrasi bersifat
sentralisasi pada model akar rumput ini bersifat desentralisasi. Hal ini
memungkinkan terjadinya kompetisi di dalam meningkatkan mutu dan sistem
pendidikan, yang pada gilirannya akan menghasilkan manusia-manusia yang mandiri
dan kreatif.
Menurut Agitara tahun 2009, orientasi yang
demokratis dari rekayasa ini bertanggung jawab membangkitkan 2 asumsi yang
sangat penting yaitu :
(1)
bahwa
kurikulum hanya dapat diterapkan secara berhasil apabila guru dilibatkan secara
langsung dengan proses pembuatan dan pengembangannya.
(2)
bukan
hanya para profesional, tetapi murid, orang tua, anggota masyarakat lain harus
dimasukkan dalam proses pengembangan kurikulum.Rekayasa ini sangat bertentangan
dengan model administratif, karena
inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum model ini berasal dari bawah, dan
dilakukan oleh sekelompok atau keseluruhan guru dari suatu sekolah.
Model ini lebih berorientasi kepada sifat
demokratis dan desentralisasi dalam pelaksanaannya. Ada dua dalil atau
ketentuan yang sebaiknya diperhatikan dalam menyusun kurikulum ini:
a.
Penerapan
kurikulum dapat berhasil bila guru terlibat dalam penyusunan dan
pengembangannya.
b.
Melibatkan
para ahli, siswa, orang tua dan masyarakat
Ada empat prinsip pengembangan kurikulum
dalam model grass root ini antara lain :
a.
Kurikulum
akan berkembang sebagai kewenangan profesional pada pengembangan guru.
b.
Kewenangan
guru dapat diperbaiki bila dilibatkan dalam revisi masalah kurikulum.
c.
Bila
guru dalam menentukan tujuan yang akan dicapai dalam menghadapi seleksi,
definisi, pemecahan masalah dan mengevaluasi hasil, mereka perlu
dipertimbangkan keterlibatannya.
d.
Mempertemukan
kelompok dalam tatap muka agar dapat memahami satu dengan yang lain secara
lebih baik untuk mencapai konsensup prinsip dasar, tujuan dan perencanaannya.
2.3.3 Model model Pengembangan Kurikulum
Menurut Para Ahli
Berdasarkan perkembangan dan pemikiran para
ahli kurikulum, maka telah banyak disajikan model-model pengembangan kurikulum.
Yang seperti telah di jelaskan diatas. Setiap model pengembangan kurikulum
tersebut memiliki karakteristik dan ciri khusus pada pola desain, implementasi,
evaluasi dan tindak lanjut dalam pembelajaran.
Nana Syaodih Sukmadinata (2008:161) membagi
membagi model-model pengembangan kuirkulum menjadi delapan model yaitu:
a.
The
administrative (line staff model) model, merupakan model yang gagasan
pengembangannya datang dan para administrator dan menggunakan prosedur
administrasi.
b.
The
grass roots model, merupakan model yang inisiatif pengembangannya datang dan
pengajar atau sekolah.
c.
Beauchamp’s
system, merupakan model yang dikembangkan oleh Beauchamp dengan
mempertimbangkan lima aspek yakni arena, personalia, organisasi dan prosedur,
implementasi dan evaluasi.
d.
The
demonstration model, merupakan model grass roots berskala kecil, yang dilakukan
secara formal ataupun kurang formal.
e.
Taba’s
inverted model, merupakan model pengembangan yang bersfat induktif.
f.
Rogers’s
interpersonal relation model, merupakan model pengembangan kurikulum dilihat
dari perkembangan dan perubahan individu.
g.
The
systematic action reseach model, merupakan model yang didasarkan pada asumsi
bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial.
h.
Emerging
technical model, merupakan suatu model pengembangan kurikulum yang dipengaruhi
oleh perkembangan IPTEK serta nilai efisiensi dan efektivitas dalam bisinis.
Selain
itu Ase Suherman dkk (2006. 60-66) membagi model pengembangan kurikulum
menjadi:
a.
Model
Ralph Taba
b.
Model
administrative
c.
Model
Grass Roots
d.
Model
demonstrasi
e.
Model
Miller-Seller
f.
Model
Taba”s (inverted model)
Sementara
itu Wina sanjaya (2008: 82-91) membagi model pengembangan kurikulum menjadi
empat bagian yaitu:
a. Model Tyler
b.
Model
Taba
c.
Model
Oliva
d.
Model
Beauchamp.
BAB II
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Peranan kurikulum dalam pembelajaran meliputi
peranan konservatif, peranan kritis atau evaluatif, serta peranan kreatif.
Peranan konservatif yaitu peranan pewarisan budaya dari generasi tua ke
generasi yang lebih muda. Peranan kritis atau evaluatif yaitu memilah
kebudayaan dan mempertahankan yang baik, serta mempertimbangkan kembali
kebudayaan yang sudah dirasa tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sedangkan
peranan kreatif berkenaan dengan kreasi manusia menciptakan sesuatu secara
dinamis yang terus berkembang selama peradaban dan pendidikan masih ada.
Model pengembangan kurikulum yang dapat
digunakan meliputi model administrasi, model grass root, model demonstrasi,
model Beauchamp, model hubungan Interpersonal dari Roger, model Tyler, serta
model Inverted dari Taba. Model administrasi rencananya berasal dari pejabat,
model grass root serta demonstrasi memiliki kemiripan dengan rencana yang
berasal dari pendidik, model Beauchamp menelaah erdasarkan langkah-langkah
tertentu, model hubungan Interpersonal dari Roger menitikberatkan pada kegiatan
kelompok campuran, model Tyler berdasar pada empat pertanyaan pendidikan, dan
model Inverted dari Taba menekankan pada kesederhanaan prosedur.
Penulis
menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini karena
terbatasnya ilmu yang penulis miliki. Penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran para pembaca agar kiranya dapat mencurahkan pemikirannya demi tercapainya
isi makalah yang lebih baik agar bisa menjadi referensi bagi kita semua.
Bagi semua pelaku pembuat kurikulum
diharapkan mampu bersikap kooperatif dalam menyikapi perbedaan pandangan serta
hubungan timbal balik antara kurikulum dan pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
-Abdullah
Idi, 2011, Pengembangan Kurikulum Teori
dan Praktik. Ar-Ruzz Media: Jogjakarta
-S.
Nasution. 1993. Pengembangan Kurikulum.
PT. Citra Aditya Bakti: Bandung
-Nana
Syaodih Sukmadinata. 2000. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. PT REMAJA
ROSDAKARYA : Bandung
-www.googlebook.com

Strange "water hack" burns 2lbs overnight
BalasHapusWell over 160 000 women and men are utilizing a simple and secret "water hack" to lose 2lbs each and every night in their sleep.
It's simple and it works with everybody.
This is how to do it yourself:
1) Take a clear glass and fill it up with water half the way
2) Proceed to learn this amazing hack
so you'll become 2lbs lighter in the morning!