garuda

Daun

Jumat, 28 Maret 2014

Model-Model Pengembangan Kurikulum

KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada penulis, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Model-Model Pengembangan Kurikulum”.

Adapun maksud dan tujuan penulis makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengembangan Kurikulum PAI dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam Darussalam Ciamis.

Penulis menyadari keterbatasan dalam penyelesaian makalah ini, sehingga dalam pembuatannya tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak berupa petunjuk maupun saran.

Denagn adanya keterbatasan yang penulis miliki, penulis telah berusaha sebaik mungkin dengan kemampuan yang ada, maka penyajian makalah ini msaih jauh dari kesempurnaan.

Akhir kata pnulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis, pembaca atau pihak lain yang memerlukan makalah ini.







Ciamis, Maret  2014





Penulis





DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR.......................................................................................

DAFTAR ISI.......................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang.................................................................................

1.2         Rumusan Masalah............................................................................

1.3         Tujuan Penulisan..............................................................................

BAB II PEMBAHASAN

2.1         Pengertian Model-Model Pengembangan Kurikulum......................

2.2         Jenis Model-Model Pengembangana Kurikulum.............................

BAB III PENUTUP

3.1  Simpulan.............................................................................................

3.2 Saran....................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA




BAB I


PENDAHULUAN


1.1         Latar Belakang

Model – model pengembangan kurikulum memegang peranan penting dalam kegiatan pengembangan  kurikulum. Sungguh sangat  naif  bagi para pelaku pendidikan di lapangan terutama guru, kepala sekolah, pengawas bahkan anggota komite sekolah jika tidak memahami dengan baik keberadaan, kegunaan dan urgensi setiap model – model pengembangan kurikulum.

Salah satu fungsi pendidikan dan kurikulum bagi masyarakat adalah menyiapkan peserta didik untuk kehidupan di kemudian hari. Oleh karena itu ada beberapa ciri dasar yang dapat disimpulkan atas penyelenggaraan kurikulum dan pendidikan yaitu sadar akan tujuan, orientasi ke hari depan, dan sadar akan penyesuaian.

Pemahaman tentang kurikulum sendiri merupakan salah satu unsur kompetensi paedagogik yang harus dimiliki seorang guru. Kompetensi paedagogik merupakan kemampuan guru dalam  pengelolaan  pembelajaran pada peserta didik yang salah satunya kemampuan pengembangan kurikulum.

Pada tahun 2006 pemerintah menerapkan pemberlakuan tentang kurikulum baru, yang berlaku sebagai pengganti kurikulum 2004 yaitu Kurukulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP). Kurikulum ini merupakan inovasi baru dalam bidang kurikulum pendidikan di Indonesia, karena dengan adanya KTSP pihak satuan pendidikan dituntut kemampuannya dalam menyusun kurikulum sesuai dengan keadaan atau kondisi dan keperluan satuan sekolah tersebut yang lebih dikenal dengan system desentralisasi. Yang tentunya ini merupakan perbedaan pada kurikulum sebelumnya yang lebih menitikberatkan pada sekolah untuk melaksanakannya saja sedangkan yang membuat dan menyusunnya adalah pemerintah yang dikenal dengan system sentralisasi.

Dengan berkembangnnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang melaju cepat, menuntut kemajuan masyarakat sebagai pelaku pendidikan juga berkembang, untuk itu pemerintah melalui guru berusaha mewujudkan sumber daya manusia yang kompeten sebagai produk hasil dari proses pendidikan. Maka dari itu perlu adanya pengembangan kurikulum sebagai modal dasar agar pembelajaran dapat berjalan lancar dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan. 

Pengembangan kurikulum tidak dapat lepas dari berbagai aspek yang mempengaruhinya, seperti cara berpikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan, politik,budaya, dan sosial), proses pengembangan, kebutuhan peserta didik, kebutuhan masyarakat maupun arah program pendidikan. Aspek-aspek tersebut akan menjadi bahan yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pengembangan kurikulum.  Model pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka mendesain (design), menerapkan (implementation), dan mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan pendidikan. Dalam praktik pengembangan kurikulum sering terjadi kecenderungan hanya menekankan pada pemenuhan mata pealajaran. Artinya isi atau materi yang  harus dipelajari peserta didik hanya berpusat pada disiplin ilmu yang terstruktur, sistematis dan logis, sehingga mengabaikan pengetahuan dan kemampuan aktual yang dibutuhkan sejalan perkembangan  masyarakat. Salah satu aspek yang perlu dipahami dalam  pengembangan kurikulum adalah aspek yang berkaitan denga organisasi kurikulum. Organisasi kurikulum berkaitandengan pengaturan  bahan  pelajaran, yang selanjutnya memiliki dampak terhadap masalah administrasi  pelaksanaan proses pembelajaran, tean teaching misalnya.. Organisasi kurikulum bukan masalah manajerial lembaga pendidikan. Organisasi kurikulum merupakan pola ataudesain bahan/ isi kurikulum yang tujuannnya untuk mempermudah siswa dalam mepelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatanbelajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif.

Banyak model dalam pengembangan kurikulum yang dapat diterapkan dalam  proses  pendidikan, untuk lebih jelasnya maka makalah ini akan  membahas mengenai Model – Model Pengembangan Kurikulum.

1.2         Rumusan Masalah

1.2.1    Apa Pengertian Model-Model Pengembangan Kurikulum ?

1.2.2    Ada berapa model yang dipergunakan dalam pengembangan kurikulum ?

1.3         Tujuan Penulisan

1.3.1   Untuk Mengetahui pengertian model-model pengembangan kurikulum.

1.3.2   Untuk mengetahui berbagai jenis model-model pengembangan kurikulum




BAB II


PEMBAHASAN


2.1         Pengertian Model-Model Pengembangan Kurikulum

   Pengembangan kurikulum mempunyai makna yang cukup luas, menurut Nana Syaodih Sukmadinata (200:1) pengembangan kurikulum bisa berarti penyusunan kurikulum yang sama sekali baru (curriculum construction), bisa juga menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curriculum improvement). Sedangkan model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi pristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis serta lambang-lambang lainnya. (Wina Sanjaya 2007:177).

Kurikulum secara umum dapat didefinisikan sebagai rencana (plan) yang dikembangkan untuk dapat tercapainya proses belajar mengajar dengan arahan atau bimbingan sekolah serta anggota stafnya. (H.M. Ahmad, Dkk, 1997: 59)

Pengembangan kurikulum adalah proses yang mengaitkan satu komponen kurikulum lainnya untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik. (H.M. Ahmad, Dkk, 1997: 62)

Menurut Good (1972) dan Travers (1973), model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainnya. Model bukanlah realitas, akan tetapi merupakan representasi realitas yang dikembangkan dari keadaan. Dengan demikian, model pada dasarnya berkaitan dengan rancangan yang dapat digunakan untuk menerjemahkan sesuatu sarana untuk mempermudah berkomunikasi, atau sebagai petunjuk yang bersifat perspektif untuk mengambil keputusan, atau sebagai petunjuk perencanaan untuk kegiatan pengelolaan.

Model atau konstruksi merupakan ulasan teoritis tentang suatu konsepsi dasar (Zainal Abidin (2012: 137). Dalam pengembangan kurikulum, model dapat merupakan ulasan teoritis tentang suatu proses kurikulum secara menyeluruh atau dapat pula merupakan ulasan tentang salah satu bagian kurikulum. Sedangkan menurut (Kamus Besar Bahasa Indonesia) model adalah pola, contoh, acuan, ragam dari sesuatu yang akan dihasilkan. Dikaitkan dengan model pengembangan kurikulum berarti merupakan suatu pola, contoh dari suatu bentuk kurikulum yang akan menjadi acuan pelaksanaan pendidikan/pembelajaran.

Model pengembangan kurikulum adalah model yang digunakan untuk mengembangkan suatu kurikulum, dimana pengembangan kurikulum dibutuhkan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum yang dibuat untuk dikembangkan sendiri baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah atau sekolah.

Nadler (1988) menjelaskan bahwa model yang baik adalah model yang dapat menolong si pengguna untuk mengerti dan memahami suatu proses secara mendasar dan menyeluruh. Selanjutnya ia menjelaskan manfaat model adalah model dapat menjelaskan beberapa aspek perilaku dan interaksi manusia, model dapat mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil observasi dan penelitian, model dapat menyederhanakan suatu proses yang bersifat kompleks, dan model dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan.

Jadi model pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka mendesain (designing), menerapkan (impelementation), dan mengevaluasi (evaliatoon) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan dalam pendidikan.

Pengembangan kurikulum tidak dapat terlepas dari berbagai aspek yang memengaruhinya, seperti cara berfikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan, politik, budaya, dan sosial), proses pengmbangan, kebutuhan peserta didik, kebutuhan masyarakat maupun arah program pendidikan. Aspek-aspek tersebut akan menjadi bahan yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pengembangan kurikulum. Agar dapat mengembangkan kurikulum secara baik, pengembang kurikulum semestinya memahami berbagai jenis model pengembangan kurikulum. Yang dimaksud dengan model pengembangan kurikulum yaitu langkah atau prosedur sistematis dalam proses penyususnan suatu kurikulum.

Dengan memahami esensi model pengembangan kurikulum dan sejumlah alternatif model pengembangan kurikulum, para pengembang kurikulum diharapkan akan bisa bekerja secara lebih sistematis, sistemik dan optimal. Sehingga haarpan ideal terwujudnya suatu kurikulum yang akomodatif dengan berbagai kepentingan, teori dan praktik, bisa diwujudkan.

Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa model pengembangan kurikulum adalah berbagai bentuk atau model yang nyata dalam penyususnan kurikulum yang baru ataupun penyempurnaan kurikulum yang telah ada.

2.2         Jenis Model-Model Pengembangan Kurikulum

   Kurikulum sebagai perangkat yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan anak secara paripurna, khususnya kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapi sehari-hari perlu dipikirkan pengalaman apa yang diperlukan oleh siswa untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan mempertimbangkan produk yang hendak dicapai, maka dimensi pengembangannya harus mengikuti pola the how bukan the what, yaitu bagaimana muatan yang disusun dalam rancangan pendidikan itu mampu merangkum pengalaman siswa untuk mencapai otonomi intelektuanya, sehingga memberikan kemampuan untuk berpikir secara mandiri dalam memecahkan persoalan baru yang belum pernah diperoleh di sekolah.

Menyimak urgensinya, maka para pengembang kurikulum dalam menyususn kurikulum memperhatikan dua faktor, yaitu kompetensi terminal dan relevansi dengan dunia kerja. Kompetensi terminal yang dimaksudkan, kompetensi untuk mencapai tujuan pendidikan melalui semua aktivitas dan pemgnalaman belajar sehingga peserta dapat mengembangangkan potensi lewat pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan di sekolah. Relevansi dengan dunia kerja dimaksudkan, apa yang dipelajari dibangku sekolah sesuai dengan jenis lapangan kerja yang dicita-citakan serta selaras dengan bakat dan kemampuannya.

Sebagai rancangan pendidikan, kurikulum dalam pengembangannya melibatkan berbagai pihak, terutama pihak-pihak yang secara langsung ataupun tidak langsung memiliki kepentingan dengan keberadaan pendidikan yang dirancang, yaitu mulai dari ahli pendidikan, ahli bidang studi, guru, siswa, pejabat pendidikan, para praktisi maupun tokoh panutan atau anggota masyarakat lainnya. Berdasarkan kepentingannya kurikulum dapat dikembangkan dalam berbagai variasi model, tiap model memiliki karakteristik yang spesifik yang tidak dimiliki oleh model yang lain.

Model-Model Kurikulum yang lazim digunakan sebagai rencana pendidikan adalah sebagai berikut :

2.3.1     Model Administrasi

   Model administrasi atau line staff dianggap sebagai model yang paling awal dikenal. Disebut line staff karena pada model ini inisiatif pengembangan kurikulum dimulai dari pejabat tingkat atas (Superintendent). Pada Model Administrasi, inisiatif rekayasa pengembangan kurikulum menggunakan konsep atau prosedur administrasi dimana administrator atau pejabat pendidikan membentuk komisi pengarah yang bertugas merumuskan konsep dasar dan landasan kebijakan dan strategi utama dalam mengembangkan kurikulum (Sudrajat,2008). Pejabat tersebut membuat keputusan tentang kebutuhan suatu program pengembangan kurikulum dan implementasinya, lalu mengadakan pertemuan dengan staf lini (bawahannya) dan meminta dukungan dari dewan pendidikan (Board of education). Langkah berikutnya adalah membentuk suatu panitia pengarah yang terdiri dari pejabat administratif tingkat atas, seperti asisten superintendent, principals, supervisor, dan guru-guru inti. Panitia pengarah merumuskan rencana umum, mengembangkan panduan kerja, dan menyiapkan rumusan filsafat dan tujuan bagi seluruh sekolah didaerahnya (District). Disamping itu, panitia pengarah dapat mengikutsertakan organisasi diluar sekolah atau tokoh masyarakat sebagai panitia penasehat yang bekerja bersama dengan personel sekolah dalam rangka merumuskan berbagai rencana, petunjuk dan tujuan yang hendak dicapai.

Setelah kebijakan kurikulum dikembangkan, maka panitia pengarah memilih dan menugaskan staf pengajar sebagai panitia pelaksana (panitia kerja) yang bertanggung jawab mengkonstruksikan kurikulum. Panitia im merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum, isi (materi), kegiatan-kegiatan belajar dan sebagainya sesuai dengan pedoman atau acuan kebijakan yang telah ditentukan oleh panitia pengarah. Panitia mengerjakan tugasnya diluar jam kerja biasa dan tidak mendapat kompensasi. Kondisi ini diterapkan karena berkaitan dengan tanggung jawab guru untuk memahami dengan benar kurikulum dan meningkatkan mutu kurikulum itu sendiri. Selanjutnya, disusu draff  kurikulum yang lebih operasional melalui penjabaran konsep kebijakan dalam tujuan operasional, penyusunan materi, strategi dan evaluasi pembelajaran, disamping itu juga menyusun pedoman umum sebagai petunjuk pelaksanaannya.

Namun ada permasalahan yang sering muncul didalam pemilihan Model Administrasi ini, antara lain:

(1)   Menuntut adanya kesiapan guru sebagai pelaksananya,

(2)   Memerlukan internalisasi kurikulum yang dikembangkan, tentunya malalui penataran awal,

(3)   kecenderungan bersifat searah,  karena adanya sentralisasi  dalam diseminasinya,

(4)   pada tahun-tahun pertama pelaksanaan, ada monitoring secara intensif dan berkelanjutan tidak dapat dihindarkan.

2.3.2     Model Grass root

   Model Grass Root  atau akar rumput dikembangkan oleh Smith, Stanley & Shores pada tahun 1957. Model Grass Root  berbeda dengan rekayasa model administrasi. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum model ini bersasal dari bawah. Misalnya model ini diawali oleh guru, pembina disekolah dengan mengabaikan metode pembuatan keputusan kelompok secara demokratis dan dimulai dari bagian-bagian yang lemah kemudian diarahkan untuk memperbaiki kurikulum tertentu yang lebih spesifik atau kelas-kelas tertentu. Model ini didasarkan pada pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna pengajaran dikelasnya. Sehingga terdapat perbedaan yang signifikan jika dibandingkan dengan Model Administrasi. Karena bila model Administrasi bersifat sentralisasi pada model akar rumput ini bersifat desentralisasi. Hal ini memungkinkan terjadinya kompetisi di dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan menghasilkan manusia-manusia yang mandiri dan kreatif.

Menurut Agitara tahun 2009, orientasi yang demokratis dari rekayasa ini bertanggung jawab membangkitkan 2 asumsi yang sangat penting yaitu :

(1)   bahwa kurikulum hanya dapat diterapkan secara berhasil apabila guru dilibatkan secara langsung dengan proses pembuatan dan pengembangannya.

(2)   bukan hanya para profesional, tetapi murid, orang tua, anggota masyarakat lain harus dimasukkan dalam proses pengembangan kurikulum.Rekayasa ini sangat bertentangan dengan  model administratif, karena inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum model ini berasal dari bawah, dan dilakukan oleh sekelompok atau keseluruhan guru dari suatu sekolah.

Model ini lebih berorientasi kepada sifat demokratis dan desentralisasi dalam pelaksanaannya. Ada dua dalil atau ketentuan yang sebaiknya diperhatikan dalam menyusun kurikulum ini:

a.       Penerapan kurikulum dapat berhasil bila guru terlibat dalam penyusunan dan pengembangannya.

b.      Melibatkan para ahli, siswa, orang tua dan masyarakat



Ada empat prinsip pengembangan kurikulum dalam model grass root ini antara lain  :

a.       Kurikulum akan berkembang sebagai kewenangan profesional pada pengembangan guru.

b.      Kewenangan guru dapat diperbaiki bila dilibatkan dalam revisi masalah kurikulum.

c.       Bila guru dalam menentukan tujuan yang akan dicapai dalam menghadapi seleksi, definisi, pemecahan masalah dan mengevaluasi hasil, mereka perlu dipertimbangkan keterlibatannya.

d.      Mempertemukan kelompok dalam tatap muka agar dapat memahami satu dengan yang lain secara lebih baik untuk mencapai konsensup prinsip dasar, tujuan dan perencanaannya.



2.3.3    Model model Pengembangan Kurikulum Menurut Para Ahli

Berdasarkan perkembangan dan pemikiran para ahli kurikulum, maka telah banyak disajikan model-model pengembangan kurikulum. Yang seperti telah di jelaskan diatas. Setiap model pengembangan kurikulum tersebut memiliki karakteristik dan ciri khusus pada pola desain, implementasi, evaluasi dan tindak lanjut dalam pembelajaran.

Nana Syaodih Sukmadinata (2008:161) membagi membagi model-model pengembangan kuirkulum menjadi delapan model yaitu:

a.       The administrative (line staff model) model, merupakan model yang gagasan pengembangannya datang dan para administrator dan menggunakan prosedur administrasi.

b.      The grass roots model, merupakan model yang inisiatif pengembangannya datang dan pengajar atau sekolah.

c.       Beauchamp’s system, merupakan model yang dikembangkan oleh Beauchamp dengan mempertimbangkan lima aspek yakni arena, personalia, organisasi dan prosedur, implementasi dan evaluasi.

d.      The demonstration model, merupakan model grass roots berskala kecil, yang dilakukan secara formal ataupun kurang formal.

e.       Taba’s inverted model, merupakan model pengembangan yang bersfat induktif.

f.       Rogers’s interpersonal relation model, merupakan model pengembangan kurikulum dilihat dari perkembangan dan perubahan individu.

g.      The systematic action reseach model, merupakan model yang didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial.

h.      Emerging technical model, merupakan suatu model pengembangan kurikulum yang dipengaruhi oleh perkembangan IPTEK serta nilai efisiensi dan efektivitas dalam bisinis.

Selain itu Ase Suherman dkk (2006. 60-66) membagi model pengembangan kurikulum menjadi:

a.       Model Ralph Taba

b.      Model administrative

c.       Model Grass Roots

d.      Model demonstrasi

e.       Model Miller-Seller

f.       Model Taba”s (inverted model)


Sementara itu Wina sanjaya (2008: 82-91) membagi model pengembangan kurikulum menjadi empat bagian yaitu:

a.       Model Tyler

b.      Model Taba

c.       Model Oliva

d.      Model Beauchamp.

BAB II


PENUTUP


3.1         Kesimpulan

Peranan kurikulum dalam pembelajaran meliputi peranan konservatif, peranan kritis atau evaluatif, serta peranan kreatif. Peranan konservatif yaitu peranan pewarisan budaya dari generasi tua ke generasi yang lebih muda. Peranan kritis atau evaluatif yaitu memilah kebudayaan dan mempertahankan yang baik, serta mempertimbangkan kembali kebudayaan yang sudah dirasa tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sedangkan peranan kreatif berkenaan dengan kreasi manusia menciptakan sesuatu secara dinamis yang terus berkembang selama peradaban dan pendidikan masih ada.

Model pengembangan kurikulum yang dapat digunakan meliputi model administrasi, model grass root, model demonstrasi, model Beauchamp, model hubungan Interpersonal dari Roger, model Tyler, serta model Inverted dari Taba. Model administrasi rencananya berasal dari pejabat, model grass root serta demonstrasi memiliki kemiripan dengan rencana yang berasal dari pendidik, model Beauchamp menelaah erdasarkan langkah-langkah tertentu, model hubungan Interpersonal dari Roger menitikberatkan pada kegiatan kelompok campuran, model Tyler berdasar pada empat pertanyaan pendidikan, dan model Inverted dari Taba menekankan pada kesederhanaan prosedur.

3.2         Saran

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini karena terbatasnya ilmu yang penulis miliki. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran para pembaca agar kiranya dapat mencurahkan pemikirannya demi tercapainya isi makalah yang lebih baik agar bisa menjadi referensi bagi kita semua.

Bagi semua pelaku pembuat kurikulum diharapkan mampu bersikap kooperatif dalam menyikapi perbedaan pandangan serta hubungan timbal balik antara kurikulum dan pembelajaran.



DAFTAR PUSTAKA


-Abdullah Idi, 2011, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Ar-Ruzz Media: Jogjakarta

-S. Nasution. 1993. Pengembangan Kurikulum. PT. Citra Aditya Bakti: Bandung

-Nana Syaodih Sukmadinata. 2000. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. PT REMAJA ROSDAKARYA : Bandung

-www.googlebook.com











1 komentar:

  1. Strange "water hack" burns 2lbs overnight

    Well over 160 000 women and men are utilizing a simple and secret "water hack" to lose 2lbs each and every night in their sleep.

    It's simple and it works with everybody.

    This is how to do it yourself:

    1) Take a clear glass and fill it up with water half the way

    2) Proceed to learn this amazing hack

    so you'll become 2lbs lighter in the morning!

    BalasHapus