BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Allah menciptakan
manusia dalam struktur yang paling baik diantara makhluk yang lain. Struktur
manusia terdiri dari jasad dan ruhaniah atau unsur fisiologis dan unsur
psikologis.
Dalam pandangan Islam,
pada dasarnya manusia itu dilahirkan dalam keadaan suci. Kesucian manusia itu
dikenal dengan istilah fitrah.
Manusia sebagai mahluk yang mempunyai kemampuan dalam beradaptasi dengan
lingkungan, mempunyai tugas yang urgent dalam melakukan proses perubahan dalam
kehidupan. Manusia sebagai khalifah Allah swt mempunyai tugas menyeimbangkan
kehidupan dunia dalam dinamika persoalan hidup. Sebagai mahluk social manusia
tidak lepas hubungan simbiosis mutualisme dengan mahluk yang lain.
Potensi yang dimiliki
oleh manusia sebagai fitrah, harus diberdayakan dan dikembangkan melalui proses
pendidikan dan pengejawantahan dari potensi-potensi manusia. Potensi manusia
sangat penting bagi kebutuhannya dalam melakukan aktifitas, jika potensi
manusia secara fitrahnya tidak dikembangkan, maka manusia akan kesulitan dalam
menjalani kehidupanya.
Allah
Swt. menyebutkan perihal fitrah penciptaan dalam firmanNya sebagai berikut.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Islam, sesuai fitrah Allah
disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada
perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama
yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar Rûm, 30: 30)
Hal di atas menjadi Kemampuan
dalil yang sempurna yang dimiliki oleh manusia bahwa mereka berbeda dengan
mahluk yang lain, sehingga manusia berbeda dengan hewan, karena manusia
mempunyai akal. Akal inilah yang perlu adanya proses penggalian potensi untuk
menuju manusia yang sempurna sebagai agen penyeimbang, agen perubahan, dan agen
sosial kemasyarakatan.
Melalui media
pendidikan potensi yang terdapat pada manusia akan dikembangkan kepada arah
untuk mewujudkan manusia yang sempurna, memanusiakan manusia, dan
memulyakannya. Tanpa adanya proses pendidikan potensi yang dimiliki manusia
sebagai fitrah manusia diciptakan perlu untuk dikembangkan melalui proses
pendidikan.
B. Rumusan Masalah
a. Apa pengertian manusia dan fitrahnya ?
b. Bagai mana hubungan fitrah dengan ruh itu sendiri ?
c. Bagai mana komponen pisikologi dalam fitrah ?
d. Apa saja macam-macam potensi manusia ?
e. Bagai mana hubungan fitrah manusia dengan
kependidikan ?
f. Bagai mana implikasi pendidikan yang mengacu kepada
fitrah manusia ?
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran dan bermanfaat diantaranya;
1.
Dapat meningkatkan
motivasi dan hasil belajar mengenai
fitrah penciptaan.
- Bagi pembaca dan penulis dapat mengubah pola pemahaman tentang fitrah penciptaan.
- Hasil penelitian ini ke depan sangat
dimungkinkan dapat diaplikasikan untuk anak berkebutuhan khusus dan pada
mata pelajaran yang lain.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Manusia Dan Fitrahnya
Secara umum pemaknaan fitrah dalam Al-Qur’an dapat dikelompokkan setidaknya dalam empat makna:
- Proses penciptaan langit dan bumi
- Proses penciptaan manusia
- Pengaturan alam semesta dan isinya secara serasi dan seimbang
- Pemaknaan pada agama Allah sebagai acuan dasa dan pedoman bagi manusia dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
Apabila
makna fitrah dirujuk pada
manusia maka makna fitrah
memiliki berbagai pengertian. Seperti dalam surat Ar-Rum ayat 30, yang bermakna
bahwa fitrah manusia yaitu
potensi manusia untuk beragama atau bertauhid kepada Allah.
Manusia
diciptakan Allah Swt. Berasal dari saripati tanah, lalu menjadi nutfah, alaqah,
dan mudgah sehingga akhirnya menjadi makhluk yang paling sempurna yang memiliki
berbagai kemampuan. Oleh karena itu, manusia wajib bersyukur atas karunia yang
telah diberikan Allah Swt.
Manusia
menurut pandangan al-Quran tentang fitrahnya
tidak dijelaskan secara terperinci. Dalam hal ini al-Quran hanya menjelaskan mengenai
prinsip-prinsipnya saja. Ayat-ayat mengenai hal tersebut terdapat dalam surat
Nuh 17, Ash-Shaffat 11, Al-Mukminuun 12-13, Ar-Rum 20, Ali Imran 59, As-Sajdah
7-9, Al-Hijr 28, dan Al-Hajj 5.
Secara bahasa manusia
berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir,
berakal budi atau makhluk ang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain).
Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah
gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu.
Manusia adalah mahluk
yang luar biasa kompleks. Kita merupakan paduan antara mahluk material dan
mahluk spiritual. Dinamika manusia tidak tinggal diam karena manusia sebagai
dinamika selalu mengaktivisasikan dirinya.
Di antara keunikannya, manusia bukan hanya
terstruktur dari jasmani, tetapi juga ruhani. Ruh bukan sekedar spirit yang
bersifat aradh (accident), tetapi satu jauhar (substance) yang dapat
bereksistensi dengan sendirinya di alam ruhani.
Manusia diciptakan oleh Allah selain menjadi
hamba-Nya, juga menjadi penguasa (Khalifah) di atas bumi. Selaku hamba dan
khalifah , manusia telah diberi kelengkapan dan kemampuan jasmaniah dan
rohaniah yang dapat dikembangtumbuhkan secara optimal kemampuan-kemampuan
tersebut dapat dicapai.
Diantara keistimewaan manusia yang juga
merupakan fitrah yang dibawa oleh manusia, yaitu diantaranya :
1.
Tindakan (bertindak)
Sebagai makhluk hidup
manusia selalu melakukan aktifitas atupun tindakan setiap harinya, seperti
bernafas, bergerak, makan, minum, berteriak, melihat, menyentuh, menangis dan
sebagainya. Berdasarkan psyschologi mengakui adanya daya pada manusia yang
menyebabkan tindakan-tindakan keluar yang mengarahkan kepada yang baik.
2.
Nafsu
Nafsu merupakan
dorongan dari dalam diri manusia untuk memuaskan keinginannya. Nafsu cenderung
dari dalam diri manusia karena terarahkan karena sesuatu, mungkin jadi
kebiasaan, mugkin juga nafsu itu tidak terkendalikan, misalnya nafsu
makan/minum jika tidak terkendalikan bisa jadi orang menjadi pemabuk, ataupun
nafsu birahi dapat menguasai manusia.
3. Ingatan
Ingatan merupakan
kemampuan untuk menyimpan hasil pengindraan. Setidaknya manusia mempunyai
gambar objek pengindraan itu, maka masih ingatlah ia akan hasil pengindraan
yang tertera padanya, kalau saja ia sudah tidak mempunyai gambaran maka ia
dikatakan lupa. Hasil pengindraan itu di simpan oleh manusia ada yang secara
mudah, ada juga dengan susah payah, maka manusia akan mengingat-ngingat
pengindraannya semula.
4. Moralitas / Tanggung Jawab
Moralitas disini adalah
adanya baik dan buruk pada tingkah laku manusia. Tidaklah semua tindakan
manusia sama nilainya. Jadi dalam beberapa tindakan orang akan sadar akan baik
buruk tindakan itu. Oleh sebab itu maka ia dituntut untuk mempertanggung
jawabkan tindakannya itu.
5. Tertawa
Orang dapat tersenyum
dan tertawa jika ia melihat, mendengar atau merasa barang sesuatu. Ketika
tertawa kita mengetahui bahwa ada kalanya sebab kita mengerti sesuatu. Mungkin
tertawa yang benar-benar, tidak terbahak-bahak, atau jika kita membaca sesuatu
yang sungguh lucu, ataupun ada humor tidak mungkin kita dapat tertawa jika kita
tidak mengerti. Maka dari itu, bahwa manusia ada hubungannya antara tertawa dan
mengerti.
6. Bahasa
Manusia
itu mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk memaparkan isi hati kita. Ada tiga
macam bahasa, yaitu: bahasa isyarat, bahasa lisan dan bahasa tulisan.
Terdapat beberapa jenis
fitrah yang terjadi pada diri manusia yaitu Daya intelektual (Quwwat al-‘Aql) yaitu potensi
dasar yang memungkinkan manusia dapat membedakan nilai baik dan buruk. Dengan
daya intelektualnya, manusia dapat mengetahui dan meng-Esakan Tuhannya. Daya ofensif (Quwwat al-syahwat), yaitu
potensi dasar yang dimiliki manusia yang mampu menginduksi obyek-obyek yang
menyenangkan dan bermanfaat bagi kehidupannya, baik secara jasmaniah maupun
rohaniah secara serasi dan seimbang. Daya defensif (Quwwat al-ghadab), yaitu
potensi dasar yang dapat menghindarkan manusia dari segala perbuatan yang
membahayakan dirinya.
Di dalam diri
manusia tersimpan banyak potensi, bahkan meliputi seluruh dimensi manusia itu
sendiri. Mulai dari potensi yang bersifat fisik (jasad) hingga potensi yang
abstrak yang bersifat rohani namun memberikan pengaruh yang demikian besar
terhadap diri manusia secara keseluruhan. Hanya saja potensi-potensi tersebut
tidak dapat berkembang dengan sendirinya. Untuk itu perlu suatu sarana yang
efektif untuk mengembangkannya agar teraktualisasi dalam kehidupannya
sehari-hari. Fitrah (potensi) ini dapat dikembangkan oleh manusia melalui
pendidikan.
A.
Hubungan fitrah dengan ruh
Substansi ajaran Islam pada intinya adalah menjunjung
tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Pada tataran aktualisasinya, martabat dan
kemuliaan manusia akan terwujud manakala manusia tersebut mampu mendekatkan
diri kepada Tuhan, karena memang dia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada
Tuhan. Islam merupakan agama fitrah yang mengusung kemaslahatan bagi umat
manusia.
Dimensi manusia yang
bersumber secara langsung dari Tuhan atas penciptaannya dengan detail dan tidak
ada kecacatan dalam diri manusia karena merupakan makhluk yang paling sempurna
diantara makhluk yang allah ciptakan, manusia awal penciptaan manusia suci
tanpa kotoran dosa apapun, dan digariskan apa-apa tentang kehidupannya oleh
Allah SWT. Dimensi Ruh yang menjadi awal hidupnya manusia membawa
sifat-sifat dan daya-daya yang dimiliki oleh sumbernya yang disebut fitrah
penciptaannya untuk hidup, mati, dan hidup kembali,hidup diddalam dirinya fitrah
lahir yaitu Allah. Khalifah Allah dapat berarti mewujudkan sifat-sifat Allah
secara nyata dalam kehidupan manusia di bumi, untuk mengelola dan memanfaatkan
bumi Allah. Tegas nya bahwa al-Ruh dan fitrah merupakan daya potensial internal
dalam diri manusia yang akan mewujud secara aktual sebagai khalifah, pemegang
agama, akhlak Allah.
B.
Komponen pisikologi dalam fitrah
Jika kita perhatikan berbagai pandangan para ulama
dan ilmuwan Islam yang telah memberikan makna terhadap istilah “fitrah”
yang diangkat dari firman Allah dan sabda Nabi bahwa fitrah adalah suatu
kemampuan dasar berkembang manusia yang dianugrahkan Allah kepadanya. Di
dalamnya terkandung berbagai komponen psikologi yang satu sama lain berkaitan
dan saling menyempurnakan bagi hidup manusia.
Aspek-aspek fitrah
merupakan komponen dasar bersifat dinamis, responsive terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk pengaruh pendidikan.
Komponen-komponen
potensial tersebut adalah:
a. Kemampuan dasar untuk baragama Islam (ad-dinul qayyimaah), di mana faktor
iman merupakan intinya beragama manusia. Muhammad ‘Abduh, Ibnu Qayyim, Abu
A’lah Al-Maududi, Sayyid Qutb berpendapat sama bahwa fitrah mengandung
kemampuan asli untuk beragama Islam, karena Islam adalah agama fitrah atau
identik dengan fitrah. Ali Fikry lebih menekankan pada peranan heriditas
(keturunan) dari bapak-ibu yang menentukan keberagamaan anaknya. Faktor
keturunan psikologi (heriditas kejiwaan) orang tua anak merupakan salah satu
aspek dari kemampuan dasar manusia itu.
b. Mawahid (bakat) dan Qabiliyyat (tendensi atau kecenderungan) yang
mengacu kepada keimanan kepada Allah. Dengan demikian maka “fitrah” mengandung
komponen psikologi yang berupa keimanan tersebut. Karena iman bagi seorang
mukmin merupakan elan vitale (daya penggerak utama) dalam dirinya yang memberi
semangat untuk mencari kebenaran hakiki dari Allah. Prof.
DR. Mohammad Fadhil Al-Djamaly, juga berpendapat bahwa Islam itu adalah Agama
yang mendorong manusia untuk mencari pembuktian melalui penelitian, berfikir
dan merenungkan ke arah iman yang benar.
c. Naluri dan kewahyuan (revilasi) bagaikan dua sisi dari uang logam;
keduanya saling terpadu dalam perkembangan manusia. Menurut Prof. DR. Hasan
Langgulung, fitrah itu dapat dilihat dari dua segi yakni: Pertama, segi naluri
sifat pembawaan manusia atau sifat-sifat Tuhan yang menjadi potensi manusia
sejak lahir, dan yang Kedua, dapat dilihat dari segi wahyu yang diturunkan
kepada Nabi-nabi-Nya. Jadi potensi manusia dan agama wahyu merupakan satu hal
yang nampak dalam dua sisi; ibaratnya mata uang logam yang mempunyai dua sisi
yang sama. Mata uang itu kita ibaratkan fitrah. Dilihat
dari sisi ia adalah potensi dan sisi lain adalah wahyu.
Prof. Langgulung memandang bahwa sifat-sifat Tuhan yang 99 macam (Asma Al-Husna) merupakan potensi yang masing-masing berdiri sendiri. Tetapi bila dikombinasikan akan timbul sifat-sifat atau potensi manusia yang jumlahnya berjuta-juta macamnya.
Prof. Langgulung memandang bahwa sifat-sifat Tuhan yang 99 macam (Asma Al-Husna) merupakan potensi yang masing-masing berdiri sendiri. Tetapi bila dikombinasikan akan timbul sifat-sifat atau potensi manusia yang jumlahnya berjuta-juta macamnya.
d. Kemampuan dasar untuk beragama secara umum, tidak hanya terbatas
pada agama Islam. Dengan kemampuan manusia dapat dididik menjadi agama Yahudi,
Nasrani ataupun Majusi, namun tidak dapat dididik menjadi atheist (anti Tuhan).
Pendapat ini diikuti oleh banyak ulama Islam yang berpaham ahli Mu’tazilah
antara lain Ibnu Sina dan Ibnu Khaldun.
e. Dalam fitrah tidak terdapat komponen psikologis apapun, karena
fitrah diartikan sebagai kondisi jiwa yang suci bersih yang reseptif terbuka
kepeda pengaruh eksternal, termasuk pendidikan. Kemampuan untuk mengadakan
reaksi atau responsi (jawaban) terhadap pengaruh dari luar tidak terdapat di
dalam fitrah.
C.
Macam-macam potensi manusia
kata potensi itu adalah serapan dari bahasa Inggris: potencial.
Artinya ada dua kata, yaitu, (kesanggupan; tenaga) dan (kekuatan; kemungkinan) .Sedangkan
menurut kamus besar bahasa Indonesia, definisi potensi adalah kemampuan yang
mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan, kekuatan, kesanggupan, daya.Intinya,
secara sederhana, potensi adalah sesuatu yang bisa kita kembangkan.Sedangkan
diri masih manurut Udo Yasmin Efendi Majdi (2007: 92) adalah akumulatif dari
pikiran kita. Jadi Potensi diri adalah kemampuan yang kita miliki yang bisa
dikembangkan.
Menurut Slamet Wiyono(2006:37) potensi dapat
diartikan sebagai kemampuan dasar dari sesuatu yang masih terpendam didalamnya
yang menunggu untuk diwujudkan menjadi sesuatu kekuatan nyata dalam diri
sesuatu tersebut. Dengan demikian potensi
diri manusia adalah kemampuan dasar yang dimiliki manusia yang masih terpendam
didalam dirinya yang menunggu untuk diwujudkan menjadi suatu manfaat
nyata dalam kehidupan diri manusia. Apabila pengertian potensi manusia
dikaitkan dengan pencipta manusia, Alloh SWT, maka potensi diri manusia dapat
diberi pengertian sebagaikemampuan dasar manusia yang telah diberikan Alloh SWT
sejak dalam kandungan ibunya sampai pada saat tertentu (akhir khayat), yang
masih terpendam didalam dirinya, menunggu diwujudkan menjadi sesuatu manfaat
nyata dalam kehidupan diri manusia didunia ini dan diakhirat nanti.
Menurut Endra K (2004: 6) potensi bisa disebut sebagai
kekuatan, energi, atau kemampuan yang terpendam yang dimiliki dan belum
dimanfaatkan secara optimal. Potensi diri yang dimaksud disini suatu kekuatan
yang masih terpendam yang berupa fisik, karakter, minat, bakat, kecerdasan dan nilai-nilai
yang terkandung dalam diri tetapi belum dimanfaatkan dan diolah.
Sedangkan Sri Habsari (2005: 2) menjelaskan,
potensi diri adalah kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang baik
fisik maupun mental dan mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan bila dilatih
dan ditunjang dengan sarana yang baik. Sedangkan diri adalah
seperangkat proses atau ciri-ciri proses fisik, perilaku dan psikologis yang
dimiliki.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
“potensi diri adalah kemampuan dasar yang dimiliki oleh seseorang yang masih
terpendam dan mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan jika
didukung dengan latihan dan sarana yang memadai“
Manusia memiliki potensi diri yang dapat dibedakan
menjadi 5 macam, yaitu:
a.
Potensi Fisik
(Psychomotoric)
Potensi diri ini dapat
diberdayakan sesuai fungsinya untuk saling membagi kepentingan untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Contohnya hidung untuk mencium bau, tangan untuk menulis,
kaki untuk berjalan, telinga untuk mendengar, dan mata untuk melihat.
b.
Potensi Mental
Intelektual (Intellectual Quotient)
Potensi diri ini adalah
potensi kecerdasan yang terdapat di otak manusia (terutama otak bagian kiri).
Fungsi dari potensi ini yaitu untuk merencanakan sesuatu, menghitung dan
menganalisis.
c.
Potensi Sosial Emosional
(Emotional Quotient)
Potensi diri ini sama
dengan potensi mental intelektual, tetapi potensi ini terdapat di otak manusia
bagian kanan. Fungsinya yaitu untuk bertanggung jawab, mengendalikan amarah,
motivasi, dan kesadaran diri.
d.
Potensi Mental Spiritual
(Spiritual Quotient)
Potensi ini merupakan
potensi kecerdasan yang berasal dari dalam diri manusia yang berhubungan dengan
kesadaran jiwa, bukan hanya untuk mengetahui norma, tapi untuk menemukan norma.
e.
Potensi Daya Juang
(Adversity Quetient)
Sama seperti potensi
mental spiritual, potensi daya juang juga berasal dari dalam diri manusia dan
berhubungan dengan keuletan, ketangguhan, dan daya juang yang tinggi.
Sedangkan apabila kita
merenungkan, sejarah kehidupan manusia di awali sejarah Nabi Adam dan anak
cucunya yang mendiami muka bumi ini. Mereka yang dibesarkan oleh perkembangan
zaman, lalu disusul dengan terwujudnya kesejahteraan di bumi ini.
Beberapa potensi
manusia menurut agama islam yang diberikan oleh Allah SWT.:
1. Potensi Akal
Manusia memiliki
potensi akal yang dapat menyusun konsep-konsep, mencipta, mengembangkan, dan
mengemukakan gagasan. Dengan potensi ini, manusia dapat melaksanakan tugas-tugasnya sebagai pemimpin di muka bumi.
Namun, factor subyektifitas manusia dapat mengarahkan manusia pada kesalahan
dan kebenaran.
2. Potensi Ruh
Manusia memiliki ruh.
Banyak mendapat para ahli tentang ruh. Ada yang mengatakan bahwa ruh pada
manusia adalah nyawa. Sementara sebagian yang lain mengalami ruh pada manusia
sebagai dukungan dan peneguhan kekuatan batin. Soal ruh ini memang bukan urusan
manusia karena manusia memiliki sedikit ilmu pengetahuan. Bukankah urusan ruh
menjadi urusan Tuhan. Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: ‘ruh adalah urusan Tuhan-Ku, kamu tidak diberi ilmu kecuali
sedikit” (QS. Al-Isra’: 85)
3. Potensi Qalbu
Qalbu disini tidak dimaknai
sebagai hati yang ada pada manusia. Qalbu lebih mengarah pada aktifitas rasa
yang bolak-balik. Sesekali senang, sesekali susah, kadang setuju kadang
menolak.
Qalbu berhubungan dengan
keimanan. Qalbu merupakan wadah dari
rasa takut, cinta, kasih sayang, dan keimanan. Karena qalbu ibarat sebuah wadah, ia berpotensi menjadi kotor atau tetap
bersih.
4. Potensi Fitrah
Manusia pada saat lahir
memiliki potensi fitrah. Fitrah disini tidak dimaknai melulu sebagai sesuatu
yang suci. Fitrah disini adalah bahwa sejak lahir fitrah manusia adalah membawa
agama yang benar. Namun, kondisi fitrah ini berpotensi tercampur dengan yang
lain dalam proses pembentukannya.
5. Potensi Nafs
Dalam bahasa Indonesia,
nafs diserap menjadi nafsu berarti
‘dorongan kuat berbuat kurang baik’. Sementara nafs yang ada pada manusia tidak hanya dorongan berbuat buruk,
tetapi berpotensi berbuat baik. Dengan kata lain, nafs ini berpotensi positif dan negative.
Melekatnya nafs pada diri manusia cenderung
berpotensi positif. Namun, potensi negative daya tariknya lebih kuat dari pada potensi
positif. Oleh karena itu manusia diminta menjaga kesucian nafsnya
agar tidak kotor.
Sebagai manusia, fitrah
kita cenderung mengarah kepada hal-hal baik dan terpuji. Namun, karena manusia diberi akal, nafsu dan
syahwat. Bisa jadi kedua tipe akhlak tersebut ada pada diri kita. Tetapi karena
manusia memiliki hawa nafsu, maka dari
itulah derajat manusia lebih
tinggi daripada malaikat,
syetan, bahkan semua
makhluk ciptaan Allah.
D. Hubungan
fitrah manusia dengan kependidikan
Allah telah memberikan fitrah pada manusia saat
manusia belum terlahir di alam dunia ini, sehinnga manusia membawa fitrahnya
saat ia dilahirkan di dunia. Fitrah yang dibawanya bersamaan dengan terlahirnya
manusia tersebut belum sepenuhnya teraktualisasi, hingga alam sekitar
mempengaruhi fitrah manusia tersebut.
Faktor yang pertama kali berpengaruh pada manusia yang
baru terlahir ke dunia adalah faktor lingkungan, terutama lingkungan
keluarga. Hal ini sesuai dengan hadits:
Artinya: “setiap anak (manusia) itu terlahir
dalam fitrahnya. Kedua orangtuanya lah yang akan mewarnai (anak) nya, apakah
menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi". (HR. Aswad bin
Sari’).
Berdasarkan hadits
di atas bisa kita katakan bahwa yang namanya fitrah sebenarnya baik, tapi ada
pengaruh setelah ia trelahir ke dunia, hinga fitrah tersebut tergantung pada
baik buruknya pengaruh dari orang tuanya.
Ada pula
segolongan ahli fikir berpendapat berpendapat bahwa kanak-kanak dilahirkan
seperti kertas putih, atau tabula rasa, tak punya potensi-potensi, ia akan
berkembang dengan pengaruh alam sekitar, termasuk ibu bapak, guru-guru,
institusi pendidikan dan lain-lain, alam sekitarnyalah yang berkuasa membentuknya
sekehendaknya, adapun si anak tidak punya daya apa-apa.
Antara hadits dan
pendapat di atas sama-sama berpendapat bahwa lingkungan dapat mempengaruhi fitrah
manusia. Pertama anak mendapat pengaruh dari keluarganya (Orang tua), lalu
teman sebayanya, lingkungan masyarakat, lalu ia akan mendapat pengaruh juga
dari lingkungan pendidikannya.
Bukan hanya
fitrah beragama saja yang diberikan pada manusia. Dalam konteks ini, Abdurahman
Saleh Abdullah mengartikan kata fitrah sebagai bentuk potensi yang diberika Allah
padanya disaat penciptaan manusia di alam rahim. Potensi-potensi yang dimaksud, di samping agama, menurut Ibnu
Taimiyah pada diri manusia juga memiliki setidak nya tiga potensi fitrah yaitu:
1.
Daya Intelektual (quwwat al-‘aql), yaitu
potensi dasar yang memungkinkan manusia dapat membedakan nilai baik dan buruk.
Dengan daya intelektualnya, manusia dapat mengetahui dan meng-Esakan Tuhannya.
2.
Daya ofensif (quwwat as-syahwat), yaitu
potensi dasar yang dimiliki manusia yang mampu menginduksi obyek-obyek yang menyenangkan
dan bermanfaat bagi kehidupannya, baik secara jasmaniah dan rohaniah secara
serasi dan seimbang.
3.
Daya defensif (quwwat al-ghadhab), yaitu
potensi dasar yang didapat menghindarkan manusia dari segala perbuatan yang
membahayakan dirinya.
4.
Daya Intelektual (al-‘aql) memiliki
posisi paling penting di antara ketiga posisi tersebut di atas, karena akal
menjadi pemegang kendali atas kedua potensi yang lain.
Inilah fungsi
pendidikan Islam bagi manusia. Apabila manusia tidak terdidik, maka ia akan
salah arah dalam mengendalikan fitrah atau potensi-potensi yang dimilikinya.
Karena ia belum mengetahuimana yang benar dan yang salah. Namun setelah manusia
tersebut mendapatkan pendidikan, terutama Pendidikan Islam, maka ia tidak
akan keliru dalam memegang kendali utamanya (quwwat al-‘aql), sehingga ia juga
dapat menentukan arah potensi-potensi yang lain menuju arah yang baik dan
manusia tersebut dapat benar-benar menjadi khalifah fi al-ardh yang
dapat mengembangkan dan menjadikan bumi ini lebih baik.
E. Implikasi
pendidikan yang mengacu kepada fitrah manusia
Ketika manusia itu diciptakan, manusia sudah
memiliki kemampuan potensi dasar pada dirinya, namun potensi yang ada itu bukan
merupakan suatu hal yang konkrit dapat langsung terlihat, tetapi masih
merupakan hal yang tersembunyi pada mulanya. Potensi atau kemampuan
tersebut dalam Islam disebut sebagai
"Fitrah". Fitrah ini merupakan potensi dasar manusia yang dibawanya
sejak lahir sebagai kemampuan dasar dan kecenderungan yang murni bagi setiap individu
manusia. Setiap manusia yang lahir mempunyai kemampuan
untuk dapat menumbuhkembangkan potensi yang ada pada dirinya, fitrah yang ada
itu akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan pengaruh lingkungan di sekitarnya.
Potensi dasar yakni potensi yang ada
dalam jasmani dan rohani. Bekal yang dimiliki manusia pun tidak hanya berupa
asupan positif saja, karena dalarn diri manusia tercipta satu potensi yang
diberi nama nafsu. Dan nafsu ini yang sering membawa manusia lupa dan ingkar dengan
fitrahnya sebagai hamba dan khalifah Allah dimuka bumi. Untuk itu manusia perlu mengembangkan potensi positif yang ada
dalam dirinya untuk rnencapai fitrah tersebut.
Dan sebagai pendidik pertama di bumi, orang tua adalah
yang berkewajiban memberikan pengetahuan pertama kepada anak-anaknya. Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka masalah yang akan
diungkap dalam penelitian ini adalah bagaimana Implikasi antara Fitrah Manusia
dalam Pendidikan Islam, yakni dilihat menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan tentang Implikasi Fitrah Manusia terhadap Pendidikan
Islam. Setelah dilakukan analisa dan kajian terhadap implikasi fitrah manusia
terhadap pendidikan, maka penulis mengemukakan beberapa kesimpulan bahwa
Pendidikan Islam adalah usaha bimbingan jasmani dan rohani pada tingkat
kehidupan individu dan sosial untuk mengembangkan fitrah manusia berdasarkan
hukum-hukum. Manusia merupakan
makhluk pilihan Allah yang mengembangkan tugas ganda, yaitu sebagai khalifäh
Allah dan Abdullah (Abdi Allah).
Untuk mengaktualisasikan kedua tugas tersebut, manusia
dibekali dengan sejumlah potensi didalam dirinya. Potensi-potensi tersebut
berupa ruh, nafsu, akal, qalb, dan
fitrah. Sejalan dengan itu, Zakiyah Darajat mengatakan, bahwa potensi dasar
tersebut berupa jasmani, rohani, dan fitrah namun ada juga yang menyebutnya
dengan jismiah, nafsiah dan ruhaniah. Potensi yang ada pada manusia adalah
untuk dikembangkan dan masing-masing pribadi manusia sebagai karunia Tuhan.
Potensi ini merupakan potensi mental-spiritual dan
fisik yang diciptakan Tuhan sebagai fitrah yang tidak bisa diubah atau
dihapuskan oleh siapapun, akan tetapi dapat diarahkan perkembangannya dalam
proses pendidikan sampai titik optimal yang berakhir pada takdir Tuhan. Disaat
mereka mengalami ketidakberdayaan ketika musibah menghampirinya, secara
naluriah, mereka akan meminta pertolongan dan segalanya kepada
Allah, yang bisa mernbebaskan mereka dan ketidakberdayaan itu. Manusia secara insting akan berbuat semacam itu sebagai ungkapan jiwanya
yang pada fitrahnya adalah suci, bertuhan, dan mengakui kebenaran. Proses
pendidikan manusia dan waktu ke waktu akan mengembangkan fitrah manusia itu sendini. Oleh karena itu mengapa pendidikan sangat
diperlukan bagi manusia.
