garuda

Daun

Jumat, 29 November 2013

FITRAH PENNCIPTAAN MANUSIA



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Allah menciptakan manusia dalam struktur yang paling baik diantara makhluk yang lain. Struktur manusia terdiri dari jasad dan ruhaniah atau unsur fisiologis dan unsur psikologis.
Dalam pandangan Islam, pada dasarnya manusia itu dilahirkan dalam keadaan suci. Kesucian manusia itu dikenal dengan istilah fitrah.
Manusia sebagai mahluk yang mempunyai kemampuan dalam beradaptasi dengan lingkungan, mempunyai tugas yang urgent dalam melakukan proses perubahan dalam kehidupan. Manusia sebagai khalifah Allah swt mempunyai tugas menyeimbangkan kehidupan dunia dalam dinamika persoalan hidup. Sebagai mahluk social manusia tidak lepas hubungan simbiosis mutualisme dengan mahluk yang lain.
Potensi yang dimiliki oleh manusia sebagai fitrah, harus diberdayakan dan dikembangkan melalui proses pendidikan dan pengejawantahan dari potensi-potensi manusia. Potensi manusia sangat penting bagi kebutuhannya dalam melakukan aktifitas, jika potensi manusia secara fitrahnya tidak dikembangkan, maka manusia akan kesulitan dalam menjalani kehidupanya.
Allah Swt. menyebutkan perihal fitrah penciptaan dalam firman­Nya sebagai be­rikut. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Islam, sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah  aga­ma yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar Rûm, 30: 30)
Hal di atas menjadi Kemampuan dalil yang sempurna yang dimiliki oleh manusia bahwa mereka berbeda dengan mahluk yang lain, sehingga manusia berbeda dengan hewan, karena  manusia mempunyai akal. Akal inilah yang perlu adanya proses penggalian potensi untuk menuju manusia yang sempurna sebagai agen penyeimbang, agen perubahan, dan agen sosial kemasyarakatan.
Melalui media pendidikan potensi yang terdapat pada manusia akan dikembangkan kepada arah untuk mewujudkan manusia yang sempurna, memanusiakan manusia, dan memulyakannya. Tanpa adanya proses pendidikan potensi yang dimiliki manusia sebagai fitrah manusia diciptakan perlu untuk dikembangkan melalui proses pendidikan.
B.       Rumusan Masalah
a.    Apa pengertian manusia dan fitrahnya ?
b.    Bagai mana hubungan fitrah dengan ruh itu sendiri ?
c.    Bagai mana komponen pisikologi dalam fitrah ?
d.   Apa saja macam-macam potensi manusia ?
e.    Bagai mana hubungan fitrah manusia dengan kependidikan ?
f.     Bagai mana implikasi pendidikan yang mengacu kepada fitrah manusia ?
C.      Tujuan Penelitian

D.      Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan bermanfaat diantaranya;
1.      Dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar mengenai fitrah penciptaan.
  1. Bagi pembaca dan penulis dapat mengubah pola pemahaman tentang fitrah penciptaan.
  2. Hasil penelitian ini ke depan sangat dimungkinkan dapat diaplikasikan untuk anak berkebutuhan khusus dan pada mata pelajaran yang lain.  
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Manusia Dan Fitrahnya
Secara umum pemaknaan fitrah dalam Al-Qur’an dapat dikelompokkan setidaknya dalam empat makna:
  1. Proses penciptaan langit dan bumi
  2. Proses penciptaan manusia
  3. Pengaturan alam semesta dan isinya secara serasi dan seimbang
  4. Pemaknaan pada agama Allah sebagai acuan dasa dan pedoman bagi manusia dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
Apabila makna fitrah dirujuk pada manusia maka makna fitrah memiliki berbagai pengertian. Seperti dalam surat Ar-Rum ayat 30, yang bermakna bahwa fitrah manusia yaitu potensi manusia untuk beragama atau bertauhid kepada Allah.
Manusia diciptakan Allah Swt. Berasal dari saripati tanah, lalu menjadi nutfah, alaqah, dan mudgah sehingga akhirnya menjadi makhluk yang paling sempurna yang memiliki berbagai kemampuan. Oleh karena itu, manusia wajib bersyukur atas karunia yang telah diberikan Allah Swt.
Manusia menurut pandangan al-Quran tentang fitrahnya tidak dijelaskan secara terperinci. Dalam hal ini al-Quran hanya menjelaskan mengenai prinsip-prinsipnya saja. Ayat-ayat mengenai hal tersebut terdapat dalam surat Nuh 17, Ash-Shaffat 11, Al-Mukminuun 12-13, Ar-Rum 20, Ali Imran 59, As-Sajdah 7-9, Al-Hijr 28, dan Al-Hajj 5.
Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk ang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu.
Manusia adalah mahluk yang luar biasa kompleks. Kita merupakan paduan antara mahluk material dan mahluk spiritual. Dinamika manusia tidak tinggal diam karena manusia sebagai dinamika selalu mengaktivisasikan dirinya.
Di antara keunikannya, manusia bukan hanya terstruktur dari jasmani, tetapi juga ruhani. Ruh bukan sekedar spirit yang bersifat aradh (accident), tetapi satu jauhar (substance) yang dapat bereksistensi dengan sendirinya di alam ruhani.
Manusia diciptakan oleh Allah selain menjadi hamba-Nya, juga menjadi penguasa (Khalifah) di atas bumi. Selaku hamba dan khalifah , manusia telah diberi kelengkapan dan kemampuan jasmaniah dan rohaniah yang dapat dikembangtumbuhkan secara optimal kemampuan-kemampuan tersebut dapat dicapai.
Diantara keistimewaan manusia yang juga merupakan fitrah yang dibawa oleh manusia, yaitu diantaranya :
1.    Tindakan (bertindak)
Sebagai makhluk hidup manusia selalu melakukan aktifitas atupun tindakan setiap harinya, seperti bernafas, bergerak, makan, minum, berteriak, melihat, menyentuh, menangis dan sebagainya. Berdasarkan psyschologi mengakui adanya daya pada manusia yang menyebabkan tindakan-tindakan keluar yang mengarahkan kepada yang baik.
2.    Nafsu
Nafsu merupakan dorongan dari dalam diri manusia untuk memuaskan keinginannya. Nafsu cenderung dari dalam diri manusia karena terarahkan karena sesuatu, mungkin jadi kebiasaan, mugkin juga nafsu itu tidak terkendalikan, misalnya nafsu makan/minum jika tidak terkendalikan bisa jadi orang menjadi pemabuk, ataupun nafsu birahi dapat menguasai manusia.
3.    Ingatan
Ingatan merupakan kemampuan untuk menyimpan hasil pengindraan. Setidaknya manusia mempunyai gambar objek pengindraan itu, maka masih ingatlah ia akan hasil pengindraan yang tertera padanya, kalau saja ia sudah tidak mempunyai gambaran maka ia dikatakan lupa. Hasil pengindraan itu di simpan oleh manusia ada yang secara mudah, ada juga dengan susah payah, maka manusia akan mengingat-ngingat pengindraannya semula.
4.    Moralitas / Tanggung Jawab
Moralitas disini adalah adanya baik dan buruk pada tingkah laku manusia. Tidaklah semua tindakan manusia sama nilainya. Jadi dalam beberapa tindakan orang akan sadar akan baik buruk tindakan itu. Oleh sebab itu maka ia dituntut untuk mempertanggung jawabkan tindakannya itu.
5.    Tertawa
Orang dapat tersenyum dan tertawa jika ia melihat, mendengar atau merasa barang sesuatu. Ketika tertawa kita mengetahui bahwa ada kalanya sebab kita mengerti sesuatu. Mungkin tertawa yang benar-benar, tidak terbahak-bahak, atau jika kita membaca sesuatu yang sungguh lucu, ataupun ada humor tidak mungkin kita dapat tertawa jika kita tidak mengerti. Maka dari itu, bahwa manusia ada hubungannya antara tertawa dan mengerti.
6.    Bahasa
Manusia itu mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk memaparkan isi hati kita. Ada tiga macam bahasa, yaitu: bahasa isyarat, bahasa lisan dan bahasa tulisan.

Terdapat beberapa jenis fitrah yang terjadi pada diri manusia yaitu Daya intelektual (Quwwat al-‘Aql) yaitu potensi dasar yang memungkinkan manusia dapat membedakan nilai baik dan buruk. Dengan daya intelektualnya, manusia dapat mengetahui dan meng-Esakan Tuhannya. Daya ofensif (Quwwat al-syahwat), yaitu potensi dasar yang dimiliki manusia yang mampu menginduksi obyek-obyek yang menyenangkan dan bermanfaat bagi kehidupannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniah secara serasi dan seimbang. Daya defensif (Quwwat al-ghadab), yaitu potensi dasar yang dapat menghindarkan manusia dari segala perbuatan yang membahayakan dirinya.
Di dalam diri manusia tersimpan banyak potensi, bahkan meliputi seluruh dimensi manusia itu sendiri. Mulai dari potensi yang bersifat fisik (jasad) hingga potensi yang abstrak yang bersifat rohani namun memberikan pengaruh yang demikian besar terhadap diri manusia secara keseluruhan. Hanya saja potensi-potensi tersebut tidak dapat berkembang dengan sendirinya. Untuk itu perlu suatu sarana yang efektif untuk mengembangkannya agar teraktualisasi dalam kehidupannya sehari-hari. Fitrah (potensi) ini dapat dikembangkan oleh manusia melalui pendidikan.


A.    Hubungan fitrah dengan ruh
Substansi ajaran Islam pada intinya adalah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Pada tataran aktualisasinya, martabat dan kemuliaan manusia akan terwujud manakala manusia tersebut mampu mendekatkan diri kepada Tuhan, karena memang dia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Islam merupakan agama fitrah yang mengusung kemaslahatan bagi umat manusia.
Dimensi manusia yang bersumber secara langsung dari Tuhan atas penciptaannya dengan detail dan tidak ada kecacatan dalam diri manusia karena merupakan makhluk yang paling sempurna diantara makhluk yang allah ciptakan, manusia awal penciptaan manusia suci tanpa kotoran dosa apapun, dan digariskan apa-apa tentang kehidupannya oleh Allah SWT. Dimensi Ruh yang menjadi awal hidupnya manusia membawa sifat-sifat dan daya-daya yang dimiliki oleh sumbernya yang disebut fitrah penciptaannya untuk hidup, mati, dan hidup kembali,hidup diddalam dirinya fitrah lahir yaitu Allah. Khalifah Allah dapat berarti mewujudkan sifat-sifat Allah secara nyata dalam kehidupan manusia di bumi, untuk mengelola dan memanfaatkan bumi Allah. Tegas nya bahwa al-Ruh dan fitrah merupakan daya potensial internal dalam diri manusia yang akan mewujud secara aktual sebagai khalifah, pemegang agama, akhlak  Allah.

B.     Komponen pisikologi dalam fitrah
Jika  kita perhatikan berbagai pandangan para ulama dan ilmuwan Islam yang telah memberikan makna terhadap istilah “fitrah” yang diangkat dari firman Allah dan sabda Nabi bahwa fitrah adalah suatu kemampuan dasar berkembang manusia yang dianugrahkan Allah kepadanya. Di dalamnya terkandung berbagai komponen psikologi yang satu sama lain berkaitan dan saling menyempurnakan bagi hidup manusia.
Aspek-aspek fitrah merupakan komponen dasar bersifat dinamis, responsive terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk pengaruh pendidikan.

Komponen-komponen potensial tersebut adalah:
a.       Kemampuan dasar untuk baragama Islam (ad-dinul qayyimaah), di mana faktor iman merupakan intinya beragama manusia. Muhammad ‘Abduh, Ibnu Qayyim, Abu A’lah Al-Maududi, Sayyid Qutb berpendapat sama bahwa fitrah mengandung kemampuan asli untuk beragama Islam, karena Islam adalah agama fitrah atau identik dengan fitrah. Ali Fikry lebih menekankan pada peranan heriditas (keturunan) dari bapak-ibu yang menentukan keberagamaan anaknya. Faktor keturunan psikologi (heriditas kejiwaan) orang tua anak merupakan salah satu aspek dari kemampuan dasar manusia itu.
b.      Mawahid (bakat) dan Qabiliyyat (tendensi atau kecenderungan) yang mengacu kepada keimanan kepada Allah. Dengan demikian maka “fitrah” mengandung komponen psikologi yang berupa keimanan tersebut. Karena iman bagi seorang mukmin merupakan elan vitale (daya penggerak utama) dalam dirinya yang memberi semangat untuk mencari kebenaran hakiki dari Allah. Prof. DR. Mohammad Fadhil Al-Djamaly, juga berpendapat bahwa Islam itu adalah Agama yang mendorong manusia untuk mencari pembuktian melalui penelitian, berfikir dan merenungkan ke arah iman yang benar.
c.       Naluri dan kewahyuan (revilasi) bagaikan dua sisi dari uang logam; keduanya saling terpadu dalam perkembangan manusia. Menurut Prof. DR. Hasan Langgulung, fitrah itu dapat dilihat dari dua segi yakni: Pertama, segi naluri sifat pembawaan manusia atau sifat-sifat Tuhan yang menjadi potensi manusia sejak lahir, dan yang Kedua, dapat dilihat dari segi wahyu yang diturunkan kepada Nabi-nabi-Nya. Jadi potensi manusia dan agama wahyu merupakan satu hal yang nampak dalam dua sisi; ibaratnya mata uang logam yang mempunyai dua sisi yang sama. Mata uang itu kita ibaratkan fitrah. Dilihat dari sisi ia adalah potensi dan sisi lain adalah wahyu.
Prof. Langgulung memandang bahwa sifat-sifat Tuhan yang 99 macam (Asma Al-Husna) merupakan potensi yang masing-masing berdiri sendiri. Tetapi bila dikombinasikan akan timbul sifat-sifat atau potensi manusia yang jumlahnya berjuta-juta macamnya.
d.      Kemampuan dasar untuk beragama secara umum, tidak hanya terbatas pada agama Islam. Dengan kemampuan manusia dapat dididik menjadi agama Yahudi, Nasrani ataupun Majusi, namun tidak dapat dididik menjadi atheist (anti Tuhan). Pendapat ini diikuti oleh banyak ulama Islam yang berpaham ahli Mu’tazilah antara lain Ibnu Sina dan Ibnu Khaldun.
e.       Dalam fitrah tidak terdapat komponen psikologis apapun, karena fitrah diartikan sebagai kondisi jiwa yang suci bersih yang reseptif terbuka kepeda pengaruh eksternal, termasuk pendidikan. Kemampuan untuk mengadakan reaksi atau responsi (jawaban) terhadap pengaruh dari luar tidak terdapat di dalam fitrah.
C.    Macam-macam potensi manusia
kata potensi itu adalah serapan dari bahasa Inggris: potencial. Artinya ada dua kata, yaitu, (kesanggupan; tenaga) dan (kekuatan; kemungkinan) .Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia, definisi potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan, kekuatan, kesanggupan, daya.Intinya, secara sederhana, potensi adalah sesuatu yang bisa kita kembangkan.Sedangkan diri masih manurut Udo Yasmin Efendi Majdi (2007: 92) adalah akumulatif dari pikiran kita. Jadi Potensi diri adalah kemampuan yang kita miliki yang bisa dikembangkan.
Menurut Slamet Wiyono(2006:37) potensi dapat diartikan sebagai kemampuan dasar dari sesuatu yang masih terpendam didalamnya yang menunggu untuk diwujudkan menjadi sesuatu kekuatan nyata dalam diri sesuatu tersebut. Dengan demikian potensi diri manusia adalah kemampuan dasar yang dimiliki manusia yang masih terpendam didalam dirinya yang menunggu untuk diwujudkan  menjadi suatu manfaat nyata dalam kehidupan diri manusia. Apabila pengertian potensi manusia dikaitkan dengan pencipta manusia, Alloh SWT, maka potensi diri manusia dapat diberi pengertian sebagaikemampuan dasar manusia yang telah diberikan Alloh SWT sejak dalam kandungan ibunya sampai pada saat tertentu (akhir khayat), yang masih terpendam didalam dirinya, menunggu diwujudkan menjadi sesuatu manfaat nyata dalam kehidupan diri manusia didunia ini dan diakhirat nanti.
Menurut Endra K (2004: 6) potensi bisa disebut sebagai kekuatan, energi, atau kemampuan yang terpendam yang dimiliki dan belum dimanfaatkan secara optimal. Potensi diri yang dimaksud disini suatu kekuatan yang masih terpendam yang berupa fisik, karakter, minat, bakat, kecerdasan dan nilai-nilai yang terkandung dalam diri tetapi belum dimanfaatkan dan diolah.
Sedangkan Sri Habsari (2005: 2) menjelaskan, potensi diri adalah kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang baik fisik maupun mental dan mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan bila dilatih dan ditunjang dengan sarana yang baik. Sedangkan diri adalah seperangkat proses atau ciri-ciri proses fisik, perilaku dan psikologis yang dimiliki.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa “potensi diri adalah kemampuan dasar yang dimiliki oleh seseorang yang masih terpendam dan mempunyai kemungkinan  untuk dikembangkan  jika didukung dengan latihan dan sarana yang memadai

Manusia memiliki potensi diri yang dapat dibedakan menjadi 5 macam, yaitu:
a.    Potensi Fisik (Psychomotoric)
Potensi diri ini dapat diberdayakan sesuai fungsinya untuk saling membagi kepentingan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Contohnya hidung untuk mencium bau, tangan untuk menulis, kaki untuk berjalan, telinga untuk mendengar, dan mata untuk melihat.
b.    Potensi Mental Intelektual (Intellectual Quotient)
Potensi diri ini adalah potensi kecerdasan yang terdapat di otak manusia (terutama otak bagian kiri). Fungsi dari potensi ini yaitu untuk merencanakan sesuatu, menghitung dan menganalisis.
c.    Potensi Sosial Emosional (Emotional Quotient)
Potensi diri ini sama dengan potensi mental intelektual, tetapi potensi ini terdapat di otak manusia bagian kanan. Fungsinya yaitu untuk bertanggung jawab, mengendalikan amarah, motivasi, dan kesadaran diri.
d.   Potensi Mental Spiritual (Spiritual Quotient)
Potensi ini merupakan potensi kecerdasan yang berasal dari dalam diri manusia yang berhubungan dengan kesadaran jiwa, bukan hanya untuk mengetahui norma, tapi untuk menemukan norma.
e.    Potensi Daya Juang (Adversity Quetient)
Sama seperti potensi mental spiritual, potensi daya juang juga berasal dari dalam diri manusia dan berhubungan dengan keuletan, ketangguhan, dan daya juang yang tinggi.
Sedangkan apabila kita merenungkan, sejarah kehidupan manusia di awali sejarah Nabi Adam dan anak cucunya yang mendiami muka bumi ini. Mereka yang dibesarkan oleh perkembangan zaman, lalu disusul dengan terwujudnya kesejahteraan di bumi ini.

Beberapa potensi manusia menurut agama islam yang diberikan oleh Allah SWT.:
1.      Potensi Akal
Manusia memiliki potensi akal yang dapat menyusun konsep-konsep, mencipta, mengembangkan, dan mengemukakan gagasan. Dengan potensi ini, manusia dapat melaksanakan  tugas-tugasnya sebagai pemimpin di muka bumi. Namun, factor subyektifitas manusia dapat mengarahkan manusia pada kesalahan dan kebenaran.
2.      Potensi Ruh
Manusia memiliki ruh. Banyak mendapat para ahli tentang ruh. Ada yang mengatakan bahwa ruh pada manusia adalah nyawa. Sementara sebagian yang lain mengalami ruh pada manusia sebagai dukungan dan peneguhan kekuatan batin. Soal ruh ini memang bukan urusan manusia karena manusia memiliki sedikit ilmu pengetahuan. Bukankah urusan ruh menjadi urusan Tuhan. Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: ‘ruh adalah urusan Tuhan-Ku, kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit” (QS. Al-Isra’: 85)
3.      Potensi Qalbu
Qalbu disini tidak dimaknai sebagai hati yang ada pada manusia.  Qalbu lebih mengarah pada aktifitas rasa yang bolak-balik. Sesekali senang, sesekali susah, kadang setuju kadang menolak.
Qalbu berhubungan dengan keimanan. Qalbu merupakan wadah dari rasa takut, cinta, kasih sayang, dan keimanan. Karena qalbu ibarat sebuah wadah, ia berpotensi menjadi kotor atau tetap bersih.
4.      Potensi Fitrah
Manusia pada saat lahir memiliki potensi fitrah. Fitrah disini tidak dimaknai melulu sebagai sesuatu yang suci. Fitrah disini adalah bahwa sejak lahir fitrah manusia adalah membawa agama yang benar. Namun, kondisi fitrah ini berpotensi tercampur dengan yang lain dalam proses pembentukannya.
5.      Potensi Nafs
Dalam bahasa Indonesia, nafs diserap menjadi nafsu berarti ‘dorongan kuat berbuat kurang baik’. Sementara nafs yang ada pada manusia tidak hanya dorongan berbuat buruk, tetapi berpotensi berbuat baik. Dengan kata lain, nafs ini berpotensi positif dan negative.
Melekatnya nafs pada diri manusia cenderung berpotensi positif. Namun, potensi negative daya  tariknya lebih kuat dari pada potensi positif. Oleh karena itu manusia diminta menjaga  kesucian nafsnya agar tidak kotor.
Sebagai manusia, fitrah kita cenderung mengarah kepada hal-hal baik dan terpuji.   Namun, karena manusia diberi akal, nafsu dan syahwat. Bisa jadi kedua tipe akhlak tersebut ada pada diri kita. Tetapi karena manusia memiliki hawa nafsu,  maka  dari  itulah  derajat  manusia lebih  tinggi  daripada  malaikat,  syetan,  bahkan  semua  makhluk  ciptaan  Allah.

D.    Hubungan fitrah manusia dengan kependidikan
Allah telah memberikan fitrah pada manusia saat manusia belum terlahir di alam dunia ini, sehinnga manusia membawa fitrahnya saat ia dilahirkan di dunia. Fitrah yang dibawanya bersamaan dengan terlahirnya manusia tersebut belum sepenuhnya teraktualisasi, hingga alam sekitar mempengaruhi fitrah manusia tersebut.
Faktor yang pertama kali berpengaruh pada manusia yang baru terlahir ke dunia adalah  faktor lingkungan, terutama lingkungan keluarga. Hal ini sesuai dengan hadits:
Artinya: “setiap anak (manusia) itu terlahir dalam fitrahnya. Kedua orangtuanya lah yang akan mewarnai (anak) nya, apakah menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi". (HR. Aswad bin Sari’).
Berdasarkan hadits di atas bisa kita katakan bahwa yang namanya fitrah sebenarnya baik, tapi ada pengaruh setelah ia trelahir ke dunia, hinga fitrah tersebut tergantung pada baik buruknya pengaruh dari orang tuanya.
Ada pula segolongan ahli fikir berpendapat berpendapat bahwa kanak-kanak dilahirkan seperti kertas putih, atau tabula rasa, tak punya potensi-potensi, ia akan berkembang dengan pengaruh alam sekitar, termasuk ibu bapak, guru-guru, institusi pendidikan dan lain-lain, alam sekitarnyalah yang berkuasa membentuknya sekehendaknya, adapun si anak tidak punya daya apa-apa.
Antara hadits dan pendapat di atas sama-sama berpendapat bahwa lingkungan dapat mempengaruhi fitrah manusia. Pertama anak mendapat pengaruh dari keluarganya (Orang tua), lalu teman sebayanya, lingkungan masyarakat, lalu ia akan mendapat pengaruh juga dari lingkungan pendidikannya.
Bukan hanya fitrah beragama saja yang diberikan pada manusia. Dalam konteks ini, Abdurahman Saleh Abdullah mengartikan kata fitrah sebagai bentuk potensi yang diberika Allah padanya disaat penciptaan manusia di alam rahim. Potensi-potensi yang dimaksud, di samping agama, menurut Ibnu Taimiyah pada diri manusia juga memiliki setidak nya tiga potensi fitrah yaitu:
1.      Daya Intelektual (quwwat al-‘aql), yaitu potensi dasar yang memungkinkan manusia dapat membedakan nilai baik dan buruk. Dengan daya intelektualnya, manusia dapat mengetahui dan meng-Esakan Tuhannya.
2.      Daya ofensif (quwwat as-syahwat), yaitu potensi dasar yang dimiliki manusia yang mampu menginduksi obyek-obyek yang menyenangkan dan bermanfaat bagi kehidupannya, baik secara jasmaniah dan rohaniah secara serasi dan seimbang.
3.      Daya defensif (quwwat al-ghadhab), yaitu potensi dasar yang didapat menghindarkan manusia dari segala perbuatan yang membahayakan dirinya.
4.      Daya Intelektual (al-‘aql) memiliki posisi paling penting di antara ketiga posisi tersebut di atas, karena akal menjadi pemegang kendali atas kedua potensi yang lain.
Inilah fungsi pendidikan Islam bagi manusia. Apabila manusia tidak terdidik, maka ia akan salah arah dalam mengendalikan fitrah atau potensi-potensi yang dimilikinya. Karena ia belum mengetahuimana yang benar dan yang salah. Namun setelah manusia tersebut mendapatkan pendidikan, terutama Pendidikan Islam, maka ia tidak akan keliru dalam memegang kendali utamanya (quwwat al-‘aql), sehingga ia juga dapat menentukan arah potensi-potensi yang lain menuju arah yang baik dan manusia tersebut dapat benar-benar menjadi khalifah fi al-ardh yang dapat mengembangkan dan menjadikan bumi ini lebih baik.

E.     Implikasi pendidikan yang mengacu kepada fitrah manusia
Ketika manusia itu diciptakan, manusia sudah memiliki kemampuan potensi dasar pada dirinya, namun potensi yang ada itu bukan merupakan suatu hal yang konkrit dapat langsung terlihat, tetapi masih merupakan hal yang tersembunyi pada mulanya. Potensi atau kemampuan tersebut dalam Islam disebut  sebagai "Fitrah". Fitrah ini merupakan potensi dasar manusia yang dibawanya sejak lahir sebagai kemampuan dasar dan kecenderungan yang murni bagi setiap individu manusia. Setiap manusia yang lahir mempunyai kemampuan untuk dapat menumbuhkembangkan potensi yang ada pada dirinya, fitrah yang ada itu akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan pengaruh lingkungan di sekitarnya.
Potensi dasar yakni potensi yang ada dalam jasmani dan rohani. Bekal yang dimiliki manusia pun tidak hanya berupa asupan positif saja, karena dalarn diri manusia tercipta satu potensi yang diberi nama nafsu. Dan nafsu ini yang sering membawa manusia lupa dan ingkar dengan fitrahnya sebagai hamba dan khalifah Allah dimuka bumi. Untuk itu manusia perlu mengembangkan potensi positif yang ada dalam dirinya untuk rnencapai fitrah tersebut.
Dan sebagai pendidik pertama di bumi, orang tua adalah yang berkewajiban memberikan pengetahuan pertama kepada anak-anaknya. Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka masalah yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah bagaimana Implikasi antara Fitrah Manusia dalam Pendidikan Islam, yakni dilihat menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan tentang Implikasi Fitrah Manusia terhadap Pendidikan Islam. Setelah dilakukan analisa dan kajian terhadap implikasi fitrah manusia terhadap pendidikan, maka penulis mengemukakan beberapa kesimpulan bahwa Pendidikan Islam adalah usaha bimbingan jasmani dan rohani pada tingkat kehidupan individu dan sosial untuk mengembangkan fitrah manusia berdasarkan hukum-hukum. Manusia merupakan makhluk pilihan Allah yang mengembangkan tugas ganda, yaitu sebagai khalifäh Allah dan Abdullah (Abdi Allah).
Untuk mengaktualisasikan kedua tugas tersebut, manusia dibekali dengan sejumlah potensi didalam dirinya. Potensi-potensi tersebut berupa ruh, nafsu, akal, qalb, dan fitrah. Sejalan dengan itu, Zakiyah Darajat mengatakan, bahwa potensi dasar tersebut berupa jasmani, rohani, dan fitrah namun ada juga yang menyebutnya dengan jismiah, nafsiah dan ruhaniah. Potensi yang ada pada manusia adalah untuk dikembangkan dan masing-masing pribadi manusia sebagai karunia Tuhan.
Potensi ini merupakan potensi mental-spiritual dan fisik yang diciptakan Tuhan sebagai fitrah yang tidak bisa diubah atau dihapuskan oleh siapapun, akan tetapi dapat diarahkan perkembangannya dalam proses pendidikan sampai titik optimal yang berakhir pada takdir Tuhan. Disaat mereka mengalami ketidakberdayaan ketika musibah menghampirinya, secara naluriah, mereka akan meminta pertolongan dan segalanya kepada Allah, yang bisa mernbebaskan mereka dan ketidakberdayaan itu. Manusia secara insting akan berbuat semacam itu sebagai ungkapan jiwanya yang pada fitrahnya adalah suci, bertuhan, dan mengakui kebenaran. Proses pendidikan manusia dan waktu ke waktu akan mengembangkan fitrah manusia itu sendini. Oleh karena itu mengapa pendidikan sangat diperlukan bagi manusia.